Ulasan Buku "Titik Tolak Reformasi ( Hari-hari Terakhir Presiden Soeharto)"

A. Identitas Buku.
Judul : Titik Tolak Reformasi ( Hari-hari Terakhir Presiden Soeharto)
Penulis : Edward Aspinal, Helbert Feith, Gerry van Klinken
Penerbit : LkiS Gambiran UH V/48 A Yogyakarta 55161
Cetakan : Pertama, Juli 2000
Tebal Buku : vi+416 halaman

B. Sinopsis Buku.
Lengsernya Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 merupakan kulminasi dari malapetaka ekonomi dan krisis politik. Peristiwa tersebut menutup suatu era dan menutup era baru, suatu era yang tak menentu. Pada pengamat politik Indonesia dan masyarakat tengah berjuang untuk memahami peristiwa perubahan yang teramat penting itu.

Orde Baru Soeharto : Tanda-tanda Awal Krisis
Besarnya skala krisis perubahan di Indonesia diperkuat oleh kenyataan bahwa Soeharto dan rezim Orde baru yang berada dalam pengawasannyaberkuasa dalam waktu yang begitu lama. Pada tanggal 21 mei 1998, sebagian besar orang Indonesia yang menyimak lengsernya Soeharto masih merasa tidak percaya bahwa orang yang telah begitu lama memimpin negeri ini selama 32 tahun kini tidak menjadi presiden mereka lagi. Dimulai pada akhir tahun 1960-an, format politik yang baru dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan tadi. Gambaran pokoknya adalah adanya peranan militer yang egitu kuat di dalam politik, birokratisasi dan korporatisasi seluruh organisasi sosial dan organsasi politik dan cara-cara represif terhadap para oposisi, yang dilakukan secara selektif tetapi seringkali dijalankan secara brutal.

Pada tahun-tahun kekuasaanya, orang cenderung kurang menaruh kepercayaan besar atas kemampuan politik Soeharto. Mereka memeperkirakan bahwa Soeharto sebagai seorang komandan tidak akan mempertahankan kekuasaan untk jangka waktu yang lama. Ia hanyalah seorang pemain yang tidak terlau penting, yang secara kebetulan mengemuka lantaran terjadi peristiwa penculikan dan pembunuhan enam jenderal dalam suatu kudeta yang gagal padatahun 1965. Namun seiring dengan berjalannya waktu, menjadi jelas bahwa Soeharto ternyata memilik kemampuan politik yang sangat tinggi.

Pada tahun 1970-an ia mengelabui para pesaingnya di dalam tubuh militer, mengkonsolidasi posisi yang telah dikuasainya, dan membangun lembaga kepresidenan menjadi suatu institusi politik yang paling berkuasa di negeri ini. Ia terbukti cakap dalam mengidentifikasi dan mengisolasi psaing-pesaing potensialnya di dalam tubuh militer an di lingkungan elite kekuasaan. Pada tahun 1980-an, Soeharto mendominasi reim orde baru sebagaimana halnya rezim itu mendominasi seluruh masyarakat. Tidak terdapat lagi pesaing yang serius di dalam pemerintahannya. Memang, sebagian besar dari kawan-kawan lamanya dalam militer telah pensiun atau berhenti. Eselon-eselon senior di dalam militer dan pemerintahan secara perlahan-lahan ditempati oleh orang yang sepenuhnya merupakan generasi baru yangjauh lebih muda dari Soeharto.

Keberhasialn Soeharto sebagai besar didasarkan atas hasil-hasil ekonomi. Meskipun sebagian besar keuntungan secara nyata hanya dinikmati oleh orang-orang yang dekat dengan rezim (terlebih-lebih keluarga presiden sendiri), sebagian masyarakat juga ikut menikmati. Tetapi disitu pulalah terletak bibit kerusakan yang dimiliki orde baru. Suatu politik yang statis, yang tidak responsif, akan kehilangan kontak dengan seluruh perputaran dengan seluruh perputaran perubahan sosial yang diakibatkan oleh pertumbuhan ekonomi. Memudarnya jalinan sosial yang luar biasahebat di daerah pedesaan dan terbentuknya golongan poletriat yang tereksploitasi di daerah-daerah industri dan sekelilingnya menunjukkan bahwa diskusi mengenai kesenjangan sosial dan kecemburuan sosial menjadi mendesak. Hal itu semakin marak semenjak akhir tahun 1980-an kemari.

Terdapat pula tanda-tanda kegelisahan yang semakin meningkat di lingkungan kelas menengah yang lebih makmur dan lebih banyak jumlahnya, lantaran maraknya korupsi dan juga keinginan yang lebih besar dari kelas tersebut akn partisipasi mereka dalam politik. Secara menyakinkan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah meningkatkan sebagian orng Indonesia menjadi orang kaya baru. Tetapi mereka ini cenderung untuk bersikap sinis dan pasif terhadap Orde Baru ketimbang memberi dukungan yang bersifat aktif. Ketika pergolakan pada tahun 1960-an yang melanda seluruh negeri secara lambat laun tinggal hanya sebagian kenangan kolektif( meskipun hal itu tetap merupakan ancaman ang nyata di benak sang pemimpin), kondisi menjadi matang untuk meningkatkan kontestasi politik.

Ketegangan yang serius menjadi tampak nyata pada akhir tahun 1980-an. Ketegangan itu untuk sebagian berpusat pada isu-isu mengenai suksesi kepresidenan. Meningkatnya perebutan pengaruh di lingkungan elite yang berkuasa berkombinasi dengan meningkatnya tanda-tanda kegelisahan di dalam masyarakat untuk melakukan suatu eksperimen awal mengenai reformasi terbatas pada akhir tahun 1980-an. Meskipun usaha pemerintah untuk mendorong keterbukaan terlihat kurang tegas dan setengah hati dari sejak awalnya, usaha ini ditangkap secara kuat oleh sebagian besar elemen masyarakat. Kalangan jurnalis mulai mengeksplorasi nilai-nilai baru dalam mengungkapkan pikiran mereka.

Banyak laporan mengindikasikan bahwa ia semakin tidak sudi untuk mendengarkan saran-saran dari semua pembantu-pembantunya kecuali dari sejumlah kecil anggota keluarga dan kroni-kroni nya yang sering datang ke istana. Anggota kabinet sendiri bahkan takut untuk mendekatinya, apalagi pandangan Soeharto. Cara-cara yang tampaknya disengaja dimana ia mengabaikan seruan publik perihal semakin meningkatnya kelancaran aktivitas bisnis anak-anaknya mengindikasikan bahwa presiden sesungguhnya telah kehilangan kelihaianya dalam membaca situasi politik.

Seluruh tindakan represi yang secara menyakinkan mengakhiri suatu era keterbukaan sudah pasti terjadi atas perintah presiden atau sedikitnya atas perinth para bawahannya yang mengintrpretasikan tanda-tanda dari presiden. Pembredelan tiga majalah mingguan nasional terbaik yang ada pada saat itu. Editor, tempo, dan detik pada pertengahan tahun 1994 terjadi setelah Soeharto sendiri secara terang-terangan menyerang para jurnalis, yang menurutnya telah mengadu domba satu menteri dengan menteri yang lain. Beberapa pejabat pensiunan yang terkemuka, misalnya Jenderal Soemitro , lalu orang yang namanya mirip yaitu Soemitro Djojohadikusumo, dan beberapa nama yang lain memang berbicara secara terbuka tentang perlunya perubahan.

Penggulingan terhadap Megawati Soekarnoputri sebagai pemimpin PDI mengakibatkan terjadinya peristiwa 27 juli 1996, di mana peristiwa tersebut agaknya merupakan kerusuhan yang paling luas i Jakarta semenjak Orde Baru. Penelanjangan dan meningkatkan transparasi terhadap metode lama dalam usaha mengontrol politik ditunjukkan kembali pada pemilu bulan mei 1997, tatkala kampanye rekayasa yang menghasilkan kemenangan mutlak dari Golkar, ternyata juga disertai dengan kerusuhan yang meluas di beberapa tempat. Tekanan yang dilakukan oleh pemerintah yang berlangsung dengan sangat kuat mendorong Golkar meraih jumlah suara yang lebih besar dibanding tahun 1992.Akan tetapi Megawati Soekaroputri yang memboikot kampanye memperoleh hasil dari tindakannya. Pertanyyan apakah fondasi politik Orde Baru menghadapi ancaman serius atau tidak di dalam keadaan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi segera menjadi kurang bermakna setelah rentetan badai ekonomi mulai melanda Thailand. Dampaknya mulai irasakan di Indonesia sejak pertengahan tahun 1997. Surutnya ekonomi dan adanya krisis keuangan yang secara cepat meruntuhkan sisa-sisa tatanan sosial Orde Baru, dan memeunculkan berbagai macam persoalan yang telah terakumulasi lebih dari satu dekade secara cepat, korupsi . nepotisme, suksesi presiden, kesenjangan sosial, dan tuntutan terhadap pembenahan demokrasi.

Krisis Ekonomi
Krisis ekonomi di Asia pada tahun 1997 pada akhirnya memukul Indonesia jauh lebih keras dibandingkan dengan negara-negara lain yang sebelumnya menjadi korban. Terdapat kemiripan antar Indonesia dangan Thailand dan Korea Selatan. Merosotnya nilai tukar mata uang yang sangat besar, yang umumnya bersifat jangka pendek, menjadi mustahil untuk dibayarkan tanpa adanya bantuan. Sistem perbankan mengalami guncangan. Terutama Thailand dan Indonesia, dua negara ini membut diri mereka mudahdiserang oleh sodokan keuangan global lantaran begitu mudahnya mata uang asing ergerak masuk keluar. Dan korupsi tampaknya jauh lebih parah terjadi di Indonesia, sebagian besar karena sistem politik di Indonesia jauh lebih tidak demokratis dibanding Thailand dan Korea Selatan. Pemerintah Indonesia merespon krisis dengan mengambangkan nilai tukar mata uang, meminta bantuan IMF, menutup beberapa bank dan menunda atau membatalkan beberapa proyek besar. Akan tetapi, sistem politik sistem politik yang telah menadi kakusudah tidak cukup fleksibel untuk dapat menyesuaikan diri. Konflik terbuka muncul di eselon atas pemerintahan, dimana teknokrat-teknokrat konmi berurusan dengan implementasi program IMF terlibat konflik dengan kepentingan-kepentingan terselubung dari keluarga Soehartodan kroni-kroniya.

Kepanikan melanda seluruh negeri ada bulan januari 1998, setelah Soeharto mengumumkan APBN yang oleh sebagian besar pengamat dianggap sangat tidak realistis.Utang-utang swasta akan segera jatuh tempo. Pada pekan-pekan dan bulan-bulan pertama 1998, dampak krisis mulai memukul seluruh rumah tangga secara penuh, mulai dari kelas menengah yang sebelumnya relatif makmur dan orang-orang kota pada umumnya, sampai dengan orang-orang miskin di pedesaan. Perusahaa-perusahaan yang menggantungkan bahan bakunya dari impor atau yang dililit utang dalam bentuk dolar AS mulai membentur tembok tebal. Bahkan sebagian perusahaan yang beroperasi seluruhnya di pasar domestik juga dilumpuhkan oleh nilai tukar, yang terus membumbung tinggi di tengah usaha pemerintah untuk mempertahankan nilai tukar rupiah. Segera setelah itu sebagian besar sektor swasta di seluruh negeri dilanda kenbangkrutan.

Harga-harga barang kebutuhan konsumsi mulai merambat naik dengan cepat, pertama pada beberapa barang impor,kemudian pada beberapa barang yang menggunakan barang impor, misalnya saja ayam. Tidak lama kemudian, seluruh sektor ekonomi yang menyandarkan pada bahan-bahan baku impor mulai tergilas. Berikutnya krisis memukul beberapa sektor seperti transportasi truk dan bus, lantaran suku cadang untuk itu musti diimpor. Dengan demkian, kenaikan harga barang tak terelakkan lagi menyebar ke seluruh sektor ekonomi, dan bahka mempengaruhi harga sebagian besar kebutuhan-kebutuhan dasar seperti beras yang sudah memburuk lantaran kekeringan yang berkepanjangan. Pemutusan hubungan kerja (PHK) denan demikian juga tak terelakkan lagi. Catatan yang ada menujukkan banyaknya orang yang ulang kembali ke desa mereka, dan kemudian mendorong menurunnya tingkat upah di daerah pedesaan.

Respon Soeharto
Respon Soeharto pertama kali terhadap krisi adalah bertindak dengan naluri seorang militer. Berhadapan dengan kejatuhan ekonomi, ia melakukan taktik dengan memberikan konsesilebih besar kepada pasar dengan cara menyetujui permintaan IMF. Pada level politis, ia menggalang basis-basis yang masih dimilikinya.

Di tengah krisis ekonomi, sidang MPR pada bulan Maret merupakan sidang paling mulus dalam sejarah Orde Baru. Di dalam sidag majelis dengan anggota yang seluruhnya sudah disaring dan tidak terdapat gangguan yang berarti alam sandiwara terpilihnya kembali Soeharto. Praktis, hanya satu konsesi yang dibuat oleh MPR terhadap krisis, yakni menghidupkan kembali undang-undang lama yang memberikan kewenangan kepada presiden untuk bertindak dalam keadaan darurat, sejauh mendataris melihat itu perlu untuk dilakukan demi menyelamatkan hasil-hasil pembangunan.

Ganjalan yang datag dari gelombang perlawanan merupakan dilema baru bagi pemerintah dan aparat keamanan. Pada awalnya, pemimpin-pemimpin militer mengindikasikan untuk berusaha menggunakan tindakan keras dalam melawan para pembangkang. Mendekati sidang MPR, peringatan melawan para pempotes disampaikan, dan sebagian dari pada pengkritik pemerintah ditangkap atau diganggu. Gambaran yang ada menjadi lebih kompleks lantaran persaingan di tubuh militer. Meskipun pengelompokan detail dari faksi-faksi yang ada tetaplah buram, pada saat tulisan ini dibuat, menjadi kian jelas bahwa salah satu kelompok yang berpengaruh dalam militer berpusat pada menantu Soeharto yang juga Panglima Konstrad Letnan Jenderal Prabowo, yang dikenal sebagai seorang yang berhaluan keras.

Krisis politik mulai mencapai titik didihnya pada awal bulan Mei, tatkala pemerintah mencabut subsidi bahan bakar minyak sesuai dengan program penghematan yang dimulai IMF, yang kemudian mendorong kenaikan harga-harga barang kebutuhan. Kerusuhan yang terjadi di kota Medan, Sumatra Utara pada tanggal 4 dan 5 Mei diikuti dengan bertambah dan maraknya represi yang berdarah dan demonstrasi-demonstrasi mahasiswa.

Para pemimpin oposisi seperti Amien Rais menjadi lebih lntang serangannyaterhadap presiden. Atmosfir ketegangan melanda seluruh negeri, disertai rumor tentang perpecahan dalam tubuh tentara, tentang kerusuhan dalam aktu dekat, dan tentang pembantaian berdarah yang menimpa penduduk.

Akhir dari Krisis
Dari sejak semula sudah tampak jelas bahwa kematian sejumlah mahasiswa akan menghasilkan gerakan mati syahid yang tampaknya memicu kearah klimaks dari krisis politik.Tatkala peristiwa berdarah terjadi di Universitas Trisakti pada tanggal 12 Mei.

Ketika para pemimpin pemerintahan berusaha untuk mngungkapkan bela sugkawa mereka, momentum politik telah bergerak menuju jalan-jalan di ibukota. Pada peristiwa kerusuhan yang paling buruk di sejarah Indonesia, banyak gedung-gedung pentig yang menjadi pusat prdagangan di Jakarta dihancurkan, dan lebih dari 1000 orang kehilangan nyawa.

Peristiwa yang berikutnya tentang kemarahan publik, pendudukan gedung DPR oleh para mahasiswa, protes-protes jalanan di seluruh negeri, pembelotan oleh elite-elite yang berkuasa di dekat Soeharto, usaha pesden untu mengkonsolidasikan kekuasaan, dan pengakuan bahwa pada akhirnya ia menyerah kalah.

Indoneia Pasca Soeharto
Reon kegembiraan yang luar biasa di antara para mahasiswa pemprotes atas lengsernya Soeharto dapat disimak oleh pemirsa televisi di seluruh dunia.Dalam beberapa pekan berikutnya, istilah euforia secara luas digunakan di kalangan ers Indonesia untuk melukiskan nafsu poliik yag melanda seluruh negeri.

Dalam beberapa hal, atmosfir dari pekan-pekan pertama pada saat itu, mirip dengan situasi Indonesia sepanjang kurun waktu tahun 1945-1949 pada masa perjuangan kemerdekaan. Dengan jebolnya pasak yang selama ini mengunci rapat Orde Baru secara tiba-tiba, dengan klaim dari para aktiis demokrasi bahwa kejatuhan Soeharto dalah kemenangan mereka, dan dengan pernyataan pemerintahan baru tentang komitmennya terhadap rheformasi, tuntutan dan aspirasi yang telah tertekan lama dapat dilampiaskan. Gelombang demi gelombang demonstrasi menghenyak dan melanda seluruh negeri, ketika para mahasiswa dan kelompok masyarakat lainnya juga memprotes praktek korupsi yang dilakukan oleh sebagian gubernur, anggota DPRD, camat, bahkan kepala desa, Tuntutan umum pejabat-pejabat yang terlibat KKN (korupsi, kolusi dan nepotime) harus diganti. Pers dan media elektronik juga mengalami transformasi, lantarn untuk jangka waktu yang panjang mereka mengalami frustasi oleh tindakan-tindakan sensor yang dijalankan melampaui batas. Merekamengangkat isu seperti keayaan Soeharto dan pejabat-pejabat tinggi lainnya (termasuk Habibie), konflik di lingkungan elite kekuasaan, dan keterlibatan ABRI dalam pelnaggaran hak asasi manusia di dalama pemberitaan-pemberitaanya.

Tercatat pula lusinan partai politik yang baru bermunculan pada bulan-bualn pertama setelah itu. Para petani mendapat tanahnya kembali, di maan sebelumnaya mereka telah kehilangan milik mereka selama beberapa tahun karena digunakan untuk lapangan golf atau proyek pembangunan yang lain. Pemerintahan yang baru diminta untuk menyelidiki kekeayaan Soeharto, mengusut pembunuhan Trisakti, dan kerusuha mei. Sebagian dari orang-orang yang memiliki hubungan dengan rezi lama juga menyeberang, sedangkan mereka yang telah lama memiliki keberanian untuk melawan berubah menjadi pahlawan-pahlawan yang populer di mata publik.

Atmosfir yang baru ini segera membuka berbagai kemungkinan yang luas. Termasuk di dalamnya adalah kesempatan yang nyata bagi demokratisasai sistem politik yang ditandai oleh janji Habibie untuk melakukan deregualasi politik dan amelakukan terselenggaranya pemilihan umum yang baru. Hal itu juga membuka jalan untuk memulai secara terbuka membicarakan beberapa persola yang menjengkelkan dalam tubuh politik Indonesia: isu diskriminasi rasial sebagaimana yang dialami oleh orang-orang keturunan Cina, hubungan antara pusat dan daearh, dan bahkan topik ayng sebelumnay paling tabu, resolus untuk mempertanyakan status Timor Timur.

Tentu saja di tengah-tenagh euforia yang mengiringi pergantian Soeharto, terdapat juga beberapa hal yang layak untuk diperhatikan, yakni bahwa Soeharto lantaran ia merpakan pusat patriarki Orde Baru yang tak terbantahkan telah mampu menajga posisisnya untuk sekian waktu yang lama dengan perlindungan dari institusi dan kelompok yang sangat berkuasa. Meskipun Soeharto telah lengser, aparat dan sebagian besar personelnya yang berasl dari Orde Baru masih tetap belum bergeser. Bhkan mereka tetak berusaha untuk mengerek bendera mereka dengan bendera pemihakan pada reformasi., sdehungga mereka mampu melindungi kepentingan yang kuat, yakni membatasi ruang lingkup reformasi.

Pada saat yang sama, sebagaian besar orang-orang Indonesia juga khawatir dengan ancaman PHK, kenaikan harga, dan kelangkaan bahan makanan, ketimbang bergembira dengan semangat yang telah diperbaharui. Sebagian dari mereka juga terguncang dengan kekerasan yang terjadi pada saat kerusuhan di kota-kota yang telsah berlangsung sebelum lengsernya Soeharto. Mereka juga khawatir terjadinya pergolakan, demokrsi yang tanpa batasan, yang akan mendorong pertarunagn yang lebih berdarah. Sebaimana laporan lebih jauh mengenai pemerkosaan yang terorganisir terhadap perempuan-peremopuan keturunan Cina di Jakarta pada tanggal 13 dan 14 mei, ketakutan akan pudarnya kebersamaan menjadi muncul. Yang lainnya mengatakan tentang ancaman anarki, bahkan tentang tercerai-berainya Indonesia.

Kelebihan Isi Buku :
Di dalam buku ini terdapat penggabungan kronologi bagi krisis politik yang terbentang, dan adanya lebih banyak analisis di dalamnya. Di dalam buku ini juga terdapat dua macam tulisan, satu yang berbentuk reportase yang sebagian dari media-media non Indonesia, sedangkan satu lagi yang bersifat lebih analitis.

Kekurangan Isi Buku :
Di dalam buku ini tidak menjelaskan tentang kejatuhan Soeharto pada bulan-bulan terakhir kekuasaanya. Sebaliknya, di dalam buku ini hanya ada suatu gambaran sekilas mengenai momentum kritis dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

0 Response to "Ulasan Buku "Titik Tolak Reformasi ( Hari-hari Terakhir Presiden Soeharto)""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel