Geologi Geomorfolgi Pulau Madura



PULAU MADURA
A.    Letak Geografis, Batas Astronomi, dan Luas Wilayah Pulau Madura
Secara astronomis Pulau Jawa dan Madura  Terletak di antara 113°48′10″ – 113°48′26″ BT dan 7°50′10″ – 7°56′41″ LS. Secara geologis wilayah Jawa dan Madura  terdapat banayak gunung berapi yang aktif  dapat menyuburkan tanah,  sering terjadi gempa bumi, dan terdapat bukti-bukti tersier yang kaya akan barang tambang, seperti minyak bumi, batu bara, dan bauksit. Puncak tertinggi di bagian timur Madura adalah Gunung Gadu (341 m), Gunung Merangan (398 m), dan Gunung Tembuku (471 m). Pulau Jawa dan Madura mempunyai iklim tropik basah yang dipengaruhi oleh angin monsun barat dan monsun timur. Dari bulan November hingga Mei, angin bertiup dari arah Utara Barat Laut membawa banyak uap air dan hujan di kawasan Indonesia; dari Juni hingga Oktober angin bertiup dari Selatan Tenggara kering, membawa sedikit uap air. Suhu udara di dataran rendah Indonesia berkisar antara 23 derajat Celsius sampai 28 derajat Celsius sepanjang tahun. 2 musim di Jawa dan Madura  yaitu musim hujan dan musim kemarau, pada beberapa tempat dikenal musim pancaroba, yaitu musim di antara perubahan kedua musim tersebut.
Pulau madura terletak disebelah timur laut pulau jawa, tepatnya sebelah utara provinsi jawa timur. Kondisi geografis pulau Madura dengan topografi yang relatif datar di bagian selatan dan semakin kearah utara tidak terjadi perbedaan elevansi ketinggian yang begitu mencolok. Selain itu juga merupakan dataran tinggi tanpa gunung berapi dan tanah pertanian lahan kering. Komposisi tanah dan curah hujan yang tidak sama dilereng-lereng yang tinggi letaknya justru terlalu banyak sedangkan di lereng-lereng yang rendah malah kekurangan dengan demikian mengakibatkan Madura kurang memiliki tanah yang subur.
Luas keseluruhan Pulau Madura kurang lebih 5.168 km², atau kurang lebih 10 persen dari luas daratan Jawa Timur. Adapun panjang daratan kepulauannya dari ujung barat di Kamal sampai dengan ujung Timur di Kalianget sekitar 180 km dan lebarnya berkisar 40 km. Pulau ini terbagi dalam empat wilayah kabupaten. Dengan Luas wilayah untuk kabupaten Bangkalan 1.144,75 km² terbagi dalam 8 wilayah kecamatan, kabupaten Sampang berluas wilayah 1.321,86 km², terbagi dalam 12 kecamatan, Kabupaten Pamekasan memiliki luas wilayah 844,19 km², yang terbagi dalam 13 kecamatan, dan kabupaten Sumenep mempunyai luas wilayah 1.857,530 km², terbagi dalam 27 kecamatan yang tersebar diwilayah daratan dan kepulauan.
Batas fisik pulau Madura yaitu :
·         Batas sebelah utara: Laut Jawa
·         Batas sebelah selatan: Selat Madura
·         Batas sebelah timur: Laut Jawa
·         Batas sebelah barat: Selat Madura.


A.    Morfologi Pulau Madura
Sebagian besar wilayah Madura termasuk Lajur Rembang, merupakan pegunungan yang terlipat dan membentuk antiklinorium yang memanjang dengan arah barat - timur. Pada umumnya daerah ini termasuk perbukitan landai hingga pegunungan berlereng terjal. Berdasarkan keadaan bentang alamnya daerah Madura dikelompokkan menjadi tiga satuan morfologi, yakni : dataran rendah, perbukitan dan kras.
1.      Morfologi dataran rendah, dengan ketinggian antara 0 - 50 m (dpl), menempati daerah pesisir. Di pesisir selatan Madura, dataran rendah membentang dari barat ke timur yaitu dari Pamekasan sampai ke Dungke. Di daerah Pamekasan dan Sumenep daerah dataran rendah lebih luas daripada daerah lainnya dan merupakan muara S. Trokom dan S. Anjak. Daerah ini di bentuk oleh endapan sungai, pantai, rawa dan batugamping koral.
2.      Morfologi bergelombang, dengan ketinggian 0 - 200 m (dpl), menempati bagian utara, tengah dan selatan, memanjang dengan arah barat - timur, umumnya dibentuk oleh batuan sedimen yang terdiri dari batulempung Formasi Tawun, batupasir Anggota Formasi Ngrayong dan batugamping.
3.      Morfologi kras, dengan ketinggian 120 - 440 m (dpl), dicirikan oleh perbukitan kasar, terjal, sungai bawah permukaan, gua - gua, dolina, gawir dan kuesta, menempati bagian utara dan selatan, memanjang barat - timur, umumnya dibentuk oleh batugamping pasiran dan batugamping terumbu.
Pola aliran sungai pada umumnya mendaun dan sebagian kecil sejajar, searah dengan arah jurus lapisan, sebagian memotong arah jurus lapisan, lembahnya termasuk menjelang dewasa.
Stratigrafi
Daerah Madura dibentuk oleh batuan sedimen yang berumur Miosen Awal hingga Pliosen dan batuan endapan permukaan yang terdiri dari endapan aluvium.
Batuan tertua adalah Formasi Tawun (Tmt), terdiri dari batulempung, napal dan batugamping orbitoid, berumur Miosen Awal - Miosen Tengah, Formasi Ngrayong (Tmtn) menindih selaras Formasi Tawun yang terdiri dari batupasir kuarsa berselingan dengan batugamping orbitoid dan batulempung, berumur Miosen Tengah.
Formasi Ngrayong tertindih selaras oleh Formasi Bulu (Tmb) yang terdiri dari batugamping pelat dengan sisipan napal pasiran, berumur Miosen Tengah bagian atas. Formasi Pasean (Tmp) menindih selaras Formasi Bulu, terdiri dari perselingan napal pasiran dan batugamping lempungan, berumur Miosen Akhir.
Formasi Madura (Tpm) menindih tak selaras Formasi Pasean, terdiri dari batugamping terumbu dan batugamping dolomitan, berumur Pliosen. Formasi ini tertindih tak selaras oleh Formasi Pamekasan (Qpp) yang terdiri dari konglomerat, batupasir dan lempung, berumur Plistosen. Endapan paling muda adalah aluvium terdiri dari pasir kuarsa, lempung, lumpur, kerikil dan kerakal, berumur Holosen.
Struktur
Struktur di daerah Madura adalah lipatan dan sesar. Struktur antiklin dan sinklin berarah barat - timur, jurus sesar umumnya berarah baratdaya - timurlaut dan baratlaut - tenggara. Antiklin umumnya berkembang pada Formasi Ngrayong, Bulu dan Formasi Pasean. Sinklin pada umumnya berkembang pada Formasi Ngrayong.Sesar yang terdapat di daerah ini adalah sesar naik, sesar geser dan sesar normal, jurus sesar naik berarah barat - timur, jurus sesar geser dan sesar normal berarah baratdaya - timur laut dan baratlut - tenggara. Kelurusan pada umumnya searah dengan jurus sesar geseran sesar normal.
B.     Geomorfologi Pulau Madura
Pulau Jawa memiliki deretan perbukitan kapur yang sangat panjang terutama didaerh rembang jawa tengah. Pulau Madura adalah merupakan perluasan ke timur dari bukit Rembang. Pulau ini terpisah dari Jawa mungkin terjadi pada tahun 80 SM ( menurut Statterhein). Selat Madura dimanapun dalamnya tidak lebih dari 100 m merupakan lanjutan dari pegunungan Kendeng yang ujung timurnya tenggelam di dataran delta Brantas. Pantai utaranya yang sempit menunjukan endapan pluvio-pleistosin yang terlipat serta tertutup oleh vulkan-vulkan kecil. Jalur pantai ini merupakan lanjutan dari tepi selatan anti klinorium Kendeng. Sub zone Blitar membujur kearah timur. Tanah rendah Lumajang Jember mencapai pantai selatan dimana disitu tidak terdapat pegunungan selatan seperti halnya tanah rendah Ronggo Jampi mencapai pantai selatan di Grojogan.
Secara fisiografi pada daerah ini termasuk bagian timur Perbukitan Kendeng, bagian tengah Perbukitan Rembang-Madura, pendataran alluvium Jawa sebelah utara, pendataran tengah Jawa Timur dan bagian timur lekuk Randublatung. Bagian timur Perbukitan Kendeng yang ada di Lembar ini tertutup alluvium. Yang berbeda dengan itu adalah Perbukitan Rembang-Madura yang menerus sampai Pulau Madura. Tiga satuan morfologi yang dapat dibedakan pada daerah ini, yaitu pedataran rendah, perbukitan menggelombang, dan perbukitan kras.
Sungai pada Lembar ini banyak dikendalikan oleh struktur, terutama lipatan dan sesar. Di bagian selatan Lembar, pada umumnya pola penyaliran berkembang secara kongkor dan K. Brantas akibat muatan dibawahnya berupa batuan letusan gunungapi akhirnya terdesak hingga ke pegunungan Kendeng. Hilirnya yang disebut K. Di Madura ini terjadi pembalikan topografi, puncak antiklin telah terkikis habis dan kini lebih rendah daripada sayapnya. Sebagai akibatnya, pola penyaliran yang semula konsekuen kemudian menjadi obsekuen. Sejumlah sungai kecil-kecil yang umumnya mengalir ke utara yang tetap konsekuen terkendalikan oleh sesar turun. Di daerah yang dialasi batugamping, yaitu di bagian tengah dan selatan berkembang penyaliran bawah tanah. Di bagian lain terdapat pola penyaliran dendrit.
C.    Cekungan Selat Madura
Cekungan laut Selat Madura bagian selatan secara administratif terletak di Provinsi Jawa Timur dan secara geografis cekungan ini terletak pada posisi 114010’25”BT -114013’58”BT , 801’8”LS – 803’28”LS (gambar 1). Di sebelah barat cekungan ini berbatasan dengan daratan Jawa Timur (Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan) yang dibatasi oleh garis pantai Surabaya di utara, pantai Sidoarjo sampai kawasan pantai Pasuruan di selatan. Pada kawasan pantai-pantai ini bermuara Kali Surabaya, Kali Porong, dan Sungai Brantas. Di sebelah Selatan, cekungan ini berbatasan juga dengan daratan Jawa Timur (Kabupaten Probolinggo), dibatasi oleh kawasan garis pantai Pasuruan di barat, pantai Probolinggo, sampai pantai Besuki di timur, dimana pada kawasan pantai ini dicirikan oleh kehadiran tinggian Gunung Argopuro di Kecamatan Besuki. Di sebelah Timur cekungan ini berbatasan dengan Laut Bali yang dicirikan oleh perubahan kontras kedalaman yaitu mulai dari -150 m. Adapun batas bagian utara cekungan ini adalah kawasan pantai selatan pulau Madura yang termasuk ke dalam Kebupaten Sampang dan Pamekasan. Perubahan geomorfologi dasar laut Madura sebagai ”Cekungan Moderen” dan cenderung terus menurun dari hasil penelitian-penelitian terdahulu. Kajian dilakukan secara terintegrasi yang bersumber dari laporan hasil penelitian di Selat Madura oleh Puslitbang Geologi Kelautan (1995) dan peta publikasi Indonesia Hydrographic Chart 1951 US Army Maps yang menyangkut aspek perubahan geomorfologi dasar laut.
D.    Struktur Geologi Pulau Madura
Pada masa sekarang (Neogen – Resen), pola tektonik yang berkembang di Pulau Jawa dan sekitarnya, khususnya Cekungan Jawa Timur bagian Utara merupakan zona penunjaman (convergent zone), antara lempeng Eurasia dengan lempeng Hindia – Australia (Hamilton, 1979, Katili dan Reinemund, 1984, Pulonggono, 1994).
Evolusi tektonik di Jawa Timur bisa diikuti mulai dari Jaman Akhir Kapur (85 – 65 juta tahun yang lalu) sampai sekarang (Pulonggono, 1990). Secara ringkasnya, pada cekungan Jawa Timur mengalami dua periode waktu yang menyebabkan arah relatif jalur magmatik atau pola tektoniknya berubah, yaitu pada jaman Paleogen (Eosen – Oligosen), yang berorientasi Timur Laut – Barat Daya (searah dengan pola Meratus). Pola ini menyebabkan Cekungan Jawa Timur bagian Utara, yang merupakan cekungan belakang busur, mengalami rejim tektonik regangan yang diindikasikan oleh litologi batuan dasar berumur Pra – Tersier menunjukkan pola akresi berarah Timur Laut – Barat Daya, yang ditunjukkan oleh orientasi sesar – sesar di batuan dasar, horst atau sesar – sesar anjak dan graben atau sesar tangga. Dan pada jaman Neogen (Miosen – Pliosen) berubah menjadi relatif Timur – Barat (searah dengan memanjangnya Pulau Jawa), yang merupakan rejim tektonik kompresi, sehingga menghasilkan struktur geologi lipatan, sesar – sesar anjak dan menyebabkan cekungan Jawa Timur Utara terangkat (Orogonesa Plio – Pleistosen) (Pulonggono, 1994). Khusus di Cekungan Jawa Timur bagian Utara, data yang mendukung kedua pola tektonik bisa dilihat dari data seismik dan dari data struktur yang tersingkap.
Menurut Van Bemmelen (1949), Cekungan Jawa Timur bagian Utara (North East Java Basin) yaitu Zona Kendeng, Zona Rembang – Madura, Zona Paparan Laut Jawa (Stable Platform) dan Zona Depresi Randublatung.
Keadaan struktur perlipatan pada Cekungan Jawa Timur bagian Utara pada umumnya berarah Barat – Timur, sedangkan struktur patahannya umumnya berarah Timur Laut – Barat Daya dan ada beberapa sesar naik berarah Timur – Barat.
Zona pegunungan Rembang – Madura (Northern Java Hinge Belt) dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu bagian Utara (Northern Rembang Anticlinorium) dan bagian Selatan (Middle Rembang Anticlinorium).
Bagian Utara pernah mengalami pengangkatan yang lebih kuat dibandingkan dengan di bagian selatan sehingga terjadi erosi sampai Formasi Tawun, bahkan kadang – kadang sampai Kujung Bawah. Di bagian selatan dari daerah ini terletak antara lain struktur – struktur Banyubang, Mojokerep dan Ngrayong.
Bagian Selatan (Middle Rembang Anticlinorium) ditandai oleh dua jalur positif yang jelas berdekatan dengan Cepu. Di jalur positif sebelah Utara terdapat lapangan – lapangan minyak yang penting di Jawa Timur, yaitu lapangan : Kawengan, Ledok, Nglobo Semanggi, dan termasuk juga antiklin – antiklin Ngronggah, Banyuasin, Metes, Kedewaan dan Tambakromo. Di dalam jalur positif sebelah selatan terdapat antiklinal-antiklinal / struktur-struktur Gabus, Trembes, Kluweh, Kedinding – Mundu, Balun, Tobo, Ngasem – Dander, dan Ngimbang High.

Sepanjang jalur Zona Rembang membentuk struktur perlipatan yang dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu :
  1. Bagian Timur, dimana arah umum poros antiklin membujur dari Barat Laut – Timur Tenggara.
  2. Bagian Barat, yang masing – masing porosnya mempunyai arah Barat – timur dan secara umum antiklin-antiklin tersebut menunjam baik ke arah barat ataupun ke arah timur.



Gambar Kerangka tektonik Cekungan Jawa Timur bagian Utara (Katili dan Reinemund, 1984).
Pemisahan yang sesungguhnya antara Jawa dan Madura adalah karena tektonik, dan bukan terjadi pada abad 3 Masehi, tetapi jutaan tahun sebelumnya. Analisis geologi menunjukkan itu, dan pernah saya publikasikan dan presentasikan di pertemuan ilmiah para geologists tahun 2004 (Satyana et al., 2004, Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS) Fault Zone, East Java Basin: The Origin and Nature of a Geologic Border, Proceedings PIT IAGI XXXIII).
Secara geologi, perbukitan gamping di Rembang dan area sebelah utara Surabaya (ada gamping Kujung dan Paciran) masih menerus ke Pulau Madura, terutama sebelah utaranya. Maka, Madura sebenarnya masih bagian jalur geologi sebelah utara Jawa Timur.
Dari Rembang di barat sampai area Sakala di sebelah timur Kangean merupakan jalur sesar mendatar besar yang bergerak sisi kirinya (sinistral) terkenal dengan nama RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala) Fault Zone. Sesar yang terjadi sesudah Miosen Tengah ini juga merupakan jalur deformasi inversi yang kuat dengan ditandai betapa banyaknya deformasi kompleks khas sesar mendatar sepanjang jalur itu. Panjang jalur sesar ini 675 km dan lebarnya 15-40 km, sebuah zona sesar yang besar di Indonesia.
Pulau Madura adalah pulau yang menderita pengangkatan paling kuat dari RMKS Fault Zone tersebut. Dengan cara terangkat paling tinggi melebihi jalur sebelah barat (Rembang-Pangkah/Tuban) dan sebelah timur (Kangean-Sakala) maka Pulau Madura muncul dari laut dan menjadi pulau.
Dari Jalur Rembang-Sakala itu, sebenarnya Pulau Madura yang muncul pertama, yang lainnya masih laut dangkal, baru kemudian menyusul area Rembang-Pangkah/Tuban muncul dan area Kangean-Sakala. Maka, Pulau Madura sebenarnya tak pernah memisahkan diri dari Jawa dalam gambaran retak lalu hanyut, ia memisahkan diri dari jalur Jawa karena terangkat lebih dulu dibandingkan yang lain.
Mengapa Pulau Madura terangkat paling kuat. Sebab, selain karena deformasi inversi, ia juga naik melebihi yang lain oleh gaya isostasi (gaya keseimbangan berdasarkan gravitasi) untuk mengimbangi area laut Selat Madura di sebelah selatannya yang merosot dengan cepat sebab merupakan bagian paling tenggelam dari Kendeng Deep. Kendeng Deep adalah depresi (daerah dalam) paling dalam di Pulau Jawa yang menerus ke Selat Madura sampai di utara Pulau Lombok.
Barang siapa geologist yang pernah bekerja di area Selat Madura tentu tahu bahwa batugamping Kujung di sini baru ditemukan di kedalaman sesudah 4000 meter, sementara di utara Pulau Madura batuan yang sama justru tersingkap. Itu merupakan suatu ekstremitas beda tinggi dalam geologi pada jarak yang tak terlalu jauh.



A.    Demografi Pulau Madura
Mayoritas masyarakat Madura merupakan masyarakat agraris. Kurang lebih 90% penduduknya hidup terpencar-pencar di pedalaman, di desa-desa, di dukuh-dukuh, dan kelompok-kelompok perumahan petani. Pulau ini memiliki empat kota, dari barat ke timur berturut-turut yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Kota-kota tersebut adalah sekaligus ibukota kabupaten yang membagi daerah itu dengan menggunakan nama yang sama. Kota-kota itu berada di tengah-tengah daerah yang subur dan letaknya berdekatan dengan pantai. Pada zaman yang lampau, di tempat-tempat ini terdapat keraton yang merupakan kota kediaman raja-raja. Jauh sebelum orang Belanda tiba di kepulauan Indonesia, tempat kediaman raja-raja itu telah tumbuh menjadi kota-kota kecil, yang disamping tak terhitung banyaknya pegawai dan pelayan istana, juga dihuni oleh ratusan tukang, para pemilik toko kecil, dan para pedagang. Kota keraton ini merupakan pusat kebudayaan, ekonomi, dan pemerintahan kerajaan Madura.Terkait dengan antropologi ekomnomi masyarakat Madura bergantung pada bidang pertanian sebagai mata pencaharian yang dikerjakan bersama-sama oleh kaum pria dan wanita Madura seperti suku-suku bangsa Indonesia lainnya. Mereka bertanam padi di sawah tadah hujan atau sawah beririgasi yang umumnya diselingi dengan palawija dan jagung. Waktu terluang ketika proses bertani, mereka membuat barang-barang kerajinan seperti menganyam tikar, memintal tali, membuat gula siwalan atau menyabit rumput untuk ternak.
Suku Madura merupakan etnis dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain itu, orang Madura banyak tinggal di bagian timur Jawa Timur biasa disebut wilayah Tapal Kuda, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura yang berada di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo, Jember, jumlahnya paling banyak dan jarang yang bisa berbahasa Jawa, juga termasuk Surabaya Utara ,serta sebagian Malang .
Disamping suku Jawa dan Sunda, orang Madura juga banyak yang bertransmigrasi ke wilayah lain terutama ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, serta ke Jakarta,Tanggerang,Depok,Bogor,Bekasi,dan sekitarnya, juga Negara Timur Tengah khususnya Saudi Arabia. Beberapa kota di Kalimantan seperti Sampit dan Sambas, pernah terjadi kerusuhan etnis yang melibatkan orang Madura. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura senang berdagang, terutama besi tua dan barang-barang bekas lainnya. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan dan buruh,serta beberapa ada yang berhasil menjadi, Tekonokrat, Biokrat, Mentri atau Pangkat tinggi di dunia militer.
Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang temperamental dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja. Untuk naik haji, orang Madura sekalipun miskin pasti menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan larung sesaji).
Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura.
Pemimpin kegamaan di Madura terdiri dari tiga kelompok, yaitu;santri, kyai dan haji. Murid yang menuntut ilmu disebut santri, guru agama yang mengajari santri disebut kyai, dan mereka yang kembali dari menunaikan ibadah haji ke Mekkah dan Madinah disebut haji. Ketiga kelompok tersebut berperan sebagai pemimpin keagamaan di Masjid, Musholla, acara ritual keagamaan dan acara seremonial lain, dimana mereka berperan sebagai pemimpinnya. Diantara ketiganya, kyai merupakan tokoh yang paling berpengaruh, dan oleh Kuntowijoyo, kyai Madura disebut dengan elit desa.
Pengetahuan yang mendalam tentang Islam menjadikan mereka paling terdidik di desa. Beberapa kiai selain tetap menyampaikan keahliannya soal-soal agama, juga dapat meramalkan nasib, menyembuhkan orang sakit dan mengajar olah kanuragan. Kyai Madura dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis;g uru ng a ji, yang mengajarkan al-Qur’an, g uru ng a ji kita b yang mengajarkan berbagai jenis ilmu agama, dan g uru ta re ka t yang disebut juga pemimpin tarekat. Dikarenakan mereka lebih mengutamakan keagamaan dan kebudayaan nenek moyang mereka, sehingga ilmu pengetahuan mereka tidak dinomer satukan. Hal ini telah terlihat dalam grafik kependudukan masyarakat madura. Sebagian besar masyarakat madura masih mengutamakan religiusitas dibandingkan pendidikan. Masyarakat madura biasanya hanya sekolah hingga Sekolah Dasar (SD) kemudian mereka melanjutkan ke pondok pesantren dikarenakan mereka lebih senang untuk belajar agama dari pada sekolah. Oleh karena itu tingkat pendidikan masyarakat madura tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan masyarakat pulau jawa, pulau Sumatra dan pulau lainnya. Akan tetapi ilmu pengetahuan masyarakat madura dalam hal agama tidak diragukan lagi karena mereka lebih menjunjung tinggi nilai keagamaan dibandingkan dengan pendidikan.
Pendidikan sebenarnya juga sangat penting yaitu untuk menunjang kehidupan ekonomi dan kehidupan bermasyarakat. Walaunpun demikian masyarakat madura ulet dalam mencari mata pencaharian, walaupun tidak berpendidikan tinggi masyarakat madura dapat mengandalkan ladang dan kebun mereka untuk dijadikan mata pencaharian mereka, ada pula yang berdagang, usaha dan lainnya. Mereka hanya mengandalkan yang telah nenek moyang mereka turunkan, dan tidak mengandalkan pendidikan mereka. Apabila masyarakat madura mempunyai pola pikir untuk mengimbangi pendidikan dengan keagamaan maka masyarakat madura tidak akan ketinggalan zaman dan kehidupan mereka dapat lebih maju.
B.     Sumber Daya Alam Madura
Selama ini Madura hanya dikenal sebagai Pulau Garam, suatu komoditas yang kurang menarik. Madura juga diidentikkan dengan lelucon-lelucon konyol dan juga makanan khas Sate Lalat (sate berukuran kecil). Yang lebih memprihatinkan, Madura dianggap sebagai Jago Carok, sebuah kata yang membanggakan sekaligus memilukan. Membanggakan karena melambangkan sifat ksatria, dan memilukan karena menunjukkan tingkat pendidikan dan toleransi yang minim.
Tidak banyak yang menyadari, termasuk putra-putri Madura sendiri, bahwa bumi Madura menyimpan kekayaan alam berupa tambang yang sangat berharga seperti Gas Alam (Liquid Natural Gas, LNG). Padahal sudah beberapa tahun ini LNG (dan mungkin juga Minyak Bumi) telah di-bor (drilled) dan disalurkan ke wilayah Industri di Jawa Timur seperti Gresik, Surabaya, Sidoarjo, dll.
Sebagian kita mungkin masih ingat bahwa pada Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 1992, api PON diambil dari Api Tak Kunjung Padam yang berada di Kabupaten Pamekasan, Madura. Api Tak Kunjung Padam adalah salah satu fenomena kecil yang menunjukkan bahwa bumi Madura mengandung begitu banyak sumber Gas Bumi, hingga ke permukaan daratan (on-shore). Di taman wisata Api Tak Kunjung Padam pengunjung dapat menyalakan api hanya dengan korek api, langsung dari permukaan tanah, tanpa bahan bakar apapun.
Bagaimana halnya dengan di lautan (off-shore)? Fakta menunjukkan bahwa saat ini LNG dari Madura telah memasok 60% kebutuhan Industri di Jawa Timur, di mana LNG tersebut diambil dari wilayah kepulauan Kangean yang disalurkan melalui pipa laut sejauh 450 km ke arah pulau jawa. Belakangan diketahui bahwa sudah direncanakan (dan diimplementasikan) pembuatan pipa laut ke arah Bali.
Lantas bagaimana dengan masyarakat madura? Adakah mereka sudah menikmati insentif yang seimbang dengan apa yang disumbangkan oleh Bumi Madura kepada Nusantara? Sebuah pertanyaan besar.
Temuan di lapangan menunjukkan ketidakadilan terhadap masyarakat sekitar pertambangan, mulai dari harga pembebasan lahan, penyediaan listrik, transparansi pembagian pusat-daerah, dan pelayanan masyarakat yang lain.
Penambangan di laut (on-shore) memang lebih mudah menghindar dari sorotan masyarakat perkotaan. Tetapi masyarakat kepulauan bukan masyarakat yang bisa dibodohi. Tipikal masyarakat madura yang cekatan, pemberani, dan transparan telah membuka fakta-fakta ketidakadilan tersebut.
What Does Motorcycle Insurance Cover? Standard motorcycle insurance policies cover bodily injury and property damage liability, which riders have to have in many states. Along with those, there‘s a long collection of optional coverages which are either included in certain motorcycle policies or available for riders to purchase. Bodily Injury And Property Damage Liability In many states, motorcycle riders are needed by law to possess bodily injury and property damage liability. Such as the names suggest, these cover any bodily injury to others or property damage a motorcycle rider might cause while operating their vehicle. Bodily injury and property damage liability doesn‘t cover you (the rider ) as well as motorcycle itself. A third party will typically file a liability claim against your insurance company for whatever damges you are believed to become liable for. Every motorcycle insurance policy limits the quantity of money It‘ll pay over to others for bodily injury and property damage, respectively. The limits are frequently shown with slashes between them : $25, 000 / $50, 000 / $10, 000. The very first number is that the claim limit, or maximum dollar amount, per injured person an insurance company will pay out following a crash. The next number is that the claim limit per accident. The 3rd number is that the claim limit a policy will pay to a different party for just about any property damaged from the policyholder, or rider. For instance, consider a motorcycle insurance policy which has bodily injury liability (often shortened to BI or BIL ) coverage as much as $25, 000 per person and $50, 000 per accident. Which means in case a motorcyclist injures two people inside an accident, They Might each be covered as much as $25, 000 and also the rider would still be beneath the limit of the policy. In case a rider with a similar limits injured three people, their policy would only pay as much as $50, 000 regardless of the quantity each invidivual injured person claimed. A claim limit for personal property liability applies to each and every individual accident. For instance, in case a motorcyclist crashed straight into the side of the car and damaged it, this would cover the price of those repairs as much as whatever limit the rider chose. Property damage liability doesn’t just cover damage with other vehicles, either. In case a motorcyclists drives into your fence that needed to become repaired or replaced, that might be covered, too. The claim limit for personal property is sometimes much lower than the 2 limits for bodily injury claims. A policy with $25, 000 in BI protection and $50, 000 per accident might only have a few $10, 000 limit for personal property coverage. Guest Passenger Liability Coverage When one thinks of bodily injury and property damage liability coverage, the only real major difference between motorcycle and auto insurance is some motorcycle policies include a further coverage : guest passenger liability. Guest passenger liability provides protection for just about any passenger that is injured in your motorcycle. Medical Payments (Optional) Medical payments coverage takes care of medical bills for you personally (the rider ) and any passenger in case you’re injured in your motorcycle. It covers the rider, no matter that is at fault for the accident. Which means whether a rider crashes into your bush or is struck by another vehicle, their medical bills will certainly be covered as much as the limit from the policy. Medical payments coverage is optional and motorcyclists, like can choose from an array of claim limits. Personal Injury Protection In certain states, riders can purchase personal injury protection (PIP ). It’s essentially another version of medical payments coverage. It covers a similar things along with lost wages, funeral and child care expenses. Uninsured/Underinsured Motorists (Optional) Another optional coverage motorcyclists can increase their policy is uninsured / underinsured motorist coverage (sometimes shortened to UM / UIM ). It covers damages for you like a rider along with your bike caused by another driver that is inadequately insured. If the driver doesn’t have any insurance (uninsured ) or the price of your damages was beyond a limit of the policy (underinsured ), this picks up wherever their coverage leaves off. Uninsured / underinsured motorist coverage usually pays for medical treatment, lost wages along with other damages a policyholder might incur if another party involved wasn‘t adequately insured. However, UM / UIM coverage provided by some insurance policies doesn‘t include personal property damage. Collision And Comprehensive (Optional) In case your motorcycle is associated with an accident – with another vehicle or an object – collision coverage pays for the value to repair or replace your motorcycle, minus your deductible. It usually covers as much as the Kelley Blue Book worth of the motorcycle, and that is an aggreagte price of exactly the same bike to buy across lots and lots of dealerships inside the U. S., instead of a claim limit that may be a specific dollar amount. Comprehensive coverage pays to repair or replace your motorcycle in case anything apart from a collision occurs. For instance, in case your bike was damaged inside a fire or storm, vandalized or stolen, those things would fall under comprehensive coverage. Remember than collision and comprehensive coverages usually only purchase the price of factory or standard parts. A further parts, features, paint job, graphics or any other additional equipment will likely not be covered by any motorcycle insurer. Coverage for all those kinds of upgrades, if available, would demand a special policy. Additional Coverages Offered By Insurers All the above are basic coverages that almost all motorcycle insurance companies offer. To entice customers to select their motorcycle policies, some carriers offer additional coverages. For a further cost added to some motorcyclist’s premium, most carriers offer roadside assistance, coverage for contents and private belongings on the bike, better injury protection and coverage for bike accessories. credit cards with cash back credit card reader credit card instant approval online apply credit card bad credit credit cards credit card selection online visa card pay with credit card credit card charges visa or mastercard credit card machine apply a credit card small business credit cards prepaid debit cards visa debit card mbna credit card credit card terminal card credit application credit card generator credit card balance credit card numbers credit card transfer credit card interest rates credit card interest gold card credit card online best rate credit cards credit card low interest visa card online online credit card how to aplly a credit card 0 interest credit cards debit card

0 Response to "Geologi Geomorfolgi Pulau Madura"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel