Sejarah Kerajaan Majapahit, dan Daftar Nama Raja Kerajaan Majapahit

Sejarah kerajaan majapahit sampai runtuh juga mencatat Nama-Nama Raja yang dulu pernah menguasai Majapahit. Antara lain adalah Raden Wijaya, Jayanegara, Tribuana Tungga Dewi, Hayam Wuruk, Kusumawardani-Wikramawardhana, Suhita, Bhre Tumapel (Kertawijaya), Rajasawardhana, Purwawisesa dan Kartabumi. Dan berikut nama-nama Raja dan Penjelasanya :

Sejarah Kerajaan Majapahit, dan Daftar Nama Raja Kerajaan Majapahit
Majapahit merupakan kerajaan terbesar sepanjang sejarah Indonesia yang berlangsung dari tahun 1293 M hingga 1519 M, suatu masa yang cukup panjang sebagai suatu dinasti pemerintahan. Sebagai suatu kerajaan adidaya di Indonesia, Majapahit memiliki raja – raja yang termasyur hingga saat masa keruntuhannya. Raja – raja tersebut diantaranya :

1. Raden Wijaya
Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana merupakan pendiri Kerajaan Majapahit yang memerintah dari tahun 1293 – 1309 M. Ia merupakan keturunan penguasa Singosari, anak dari Dyah Lembu Tal, cucu dari Mahisa Cempaka (Narasinghamurti) yang masih memiliki darah keturunan Ken Arok dan Ken Dedes secara langsung. Susunan Kerajaan Majapahit di tangan Raden Wijaya tidak jauh berbeda dengan susunan pemerintahan Kerajaan Singasari.

2. Jayanegara
Jayanegara bergelar Sundarapandya Dewa Dhiswa Rana Marajabiseka Wikramotunggadewa yang memerintah Kerajaan Majapahit pada tahun 1309 – 1328 M, dan sebelumnya berkedudukan di Daha sebagai Bhre Daha. Ia diproyeksikan menggantikan Raden Wijaya ayahnya sehingga diangkat sebagai putra mahkota (rajakumara). Selama masa pemerintahan Jayanegara, terjadi banyak pemberontakan diantaranya pemberontakan Ranggalawe, pemberontakan Lembu, pemberontakan Juru Demung, pemberontakan Gajah Biru, pemberontakan Nambi, Lase, Semi, Kuti dengan peristiwa Bandaderga.
Baca Juga : Sejarah Lengkap Kerajaan Majapahit
3. Tribhuwana Wijayatunggodewi
Trubhuwana Tunggadewi bergelar Tribhuwana Jayawisnuwarddhani memerintah Kerajaan Majapahit sejak tahun 1328 – 1350 M yang sebelumnya menduduki wilayah Kahuripan. Pada masa pemerintahannya juga terjadi banyak pemberontakan diantaranya pemberontakan di daerah Keta dan Sadeng yang berhasil ditumpas oleh Gajah Mada. Atas jasanya, Gajah Mada kemudian diangkat menjadi Mahapatih di Kerajaan Majapahit menggantikan Pu Naga. Gajah Mada kemudian berusaha menunjukkan kecintaannya terhadap Majapahit dengan menggelorakan Sumpah Palapa dimana ia bercita – cita mempersatukan Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit yang dibantu Mpu Nala dan Adityawarman.

4. Hayam Wuruk
Hayam Wuruk bergelar Sri Rajasanegara menjabat sebagai raja Kerajaan Majapahit sejak tahun 1350 – 1389 M dan sebelumnya berkedudukan di Jiwana atau dikenal sebagai Bhre Hyang Wekasing Sukha. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan mahapatih Gajah Mada, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan hingga menguasai wilayah Nusantara. Wilayah Majapahit saat itu hampir sama dengan wilayah Indonesia saat ini bahkan pengaruhnya sampai ke negara – negara tetangga. Satu – satunya yang tidak bisa ditaklukkan adalah wilayah Sunda di bawah kekuasaan Sri Baduga Maharaja.
Baca Juga : Biografi Gajah Mada
Suatu saat, ia bermaksud memperistri putri Sunda untuk dijadikan permasisuri bernama Dyah Pitaloka. Setelah terjadi kesepakatan, rombongan pernikahan dari Kerajaan Sunda datang ke Majapahit bersama Dyah Pitaloka dan Sri Baduga Maharaja. Gajah Mada yang haus akan kekuasaan dan melihat inilah kesempatan untuk menyerang Kerajaan Sunda kemudian dengan pasukannya menyergap rombongan pengantin dari Kerajaan Sunda tersebut. Gajah Mada mengancam bahwa Kerajaan Sunda harus menyatakan tunduk kepada Majapahit dan mempersembahkan Dyah Pitaloka sebagai upeti. Disisi lain Hayam Wuruk benar - benar cinta terhadap Dyah Pitaloka dan tidak tahu menahu mengenai penyergapan pasukan Gajah Mada.

Selanjutnya terjadi perselisihan antara Majapahit dibawah Gajah Mada dan rombongan pengantin dari Kerajaan Sunda dan terjadilah Perang Bubat yaitu perang antara Majapahit dengan Kerajaan Sunda yang terjadi pada saat pernikahan Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka. Pertarungan yang tidak berimbang membuat rombongan dari Kerajaan Sunda mengalami kekalahan. Sri Baduga Maharaja meninggal dalam perang ini. Melihat ayahnya yang mati di tangan pasukan Majapahit, Dyah Pitaloka kemudian bunuh diri.

Dari kejadian yang tidak sepaham antara Hayam Wuruk dan Gajah Mada ini membuat hubungan keduanya renggang dan selanjutnya Gajah Mada memilih mengundurkan diri dan menghilang dari Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1364 M, Gajah Mada menghilang dan selanjutnya tidak ada lagi mahapatih di Kerajaan Majapahit sehebat Gajah Mada. Sedangkan Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389 M.

5. Wikramawarddhana
Wikramawarddhana atau disebut juga Bhre Hyang Wisesa menjabat sebagai raja Kerajaan Majapahit sejak tahun 1389 – 1400 M yang sebelumnya berkedudukan di Lasem dan menikahi Bhre Lasem bernama Kusumawardhani yang merupakan anak dari Hayam Wuruk. Wikramawardhana naik tahta sebagai raja di Majapahit karena dianggap mewakili Kusumawardhani yang seharusnya naik tahta menggantikan ayahnya. Sedangkan Bhre Wirabhumi (anak Hayam Wuruk dari selir) tidak menduduki tahta di kerajaan, namun ia masih diberi wilayah di bagian timur Kerajaan Majapahit yaitu daerah Blambangan. Perebutan wilayah kekuasaan pun terjadi antara Wikramawarddhana, seorang menantu Hayam Wuruk dan Bhre Wirabhumi, seorang anak dari selir Hayam Wuruk, perang ini disebut Perang Paregreg. Wikramawardhan meninggal pada tahun 1429 M.

6. Suhita
Suhita bergelar Prabhustri menjabat sebagai raja di Kerajaam Majapahit sejak tahun 1429 – 1447 M. Ia merupakan anak dari Wikramawarddhana. Ia menggantikan posisi kakaknya yaitu Bhre Hyang Wekasing Sukha II yang berkedudukan di Tumapel (Bhre Tumapel), namun sebelum diangkat menjadi raja menggantikan Wikramawarddhana ayahnya, ia terlebih dahulu meninggal pada tahun 1399 M.

7. Dyah Kertawijaya
Dyah Kertawijaya bergelar Sri Wijayaparakramawarddhana menjabat sebagai raja di Kerajaan Majapahit sejak tahun 1447 – 1451 M yang sebelumnya menjabat di Tumapel (Bhre Tumapel) yang merupakan adik dari Suhita. Ia menggantikan kakaknya karena Suhita tidak memiliki anak.

8. Dyah Wijayakumara
Dyah Wijayakumara bergelar Rajasawardhhana menjabat di Kerajaan Majapahit sejak tahun 1451 – 1453 M yang sebelumnya berkedudukan di Pamotan (Bhre Pamotan) serta di Keling Kahuripan dan dikenal dengan sebutan Sang Sinagara.

9. Dyah Suryawikrama
Dyah Suryawikrama bergelar Girisawardhhana menjabat sebagai raja di Kerjaan Majapahit sejak 1456 – 1466 yang sebelumnya menjabat di Wengker sebagai Bhre Wengker dan merupakan putra dari Dyah Kertawijaya yang dikenal dengan sebutan Bhre Hyang Purwawisesa.

10. Dyah Suraprabhawa
Dyah Suraprabhawa bergelar Sri Singha Wikaramawarddhana menjabat sebagai raja di Kerajaan Majapahit sejak tahun 1466 – 1474 M yang sebelumnya berkedudukan di Tumapel dan dikenal sebagai Bhre Pandan Salas. Karena diserang Bhre Kertabhumi pusat pemerintahannya dipindahkan ke Daha.

11. Bhre Kertabumi
Bhre Kertabumi menjabat sebagai raja di Kerajaan Majapahit sejak tahun 1468 – 1578 M yang telah mengusir Wikramawarddhana dan menjabat sebagai raja di Majapahit. Ia merupakan anak bungsu dari Sri Rajasawarddhana.

12. Dyah Ranawijaya
Dyah Ranawijaya bergelar Girindrawarddhana yang menjabat di Kerjaan Majpahit sejak tahun 1474 – 1519 M yang sebelumnya menjabat di Kling (Bhatara i Kling) anak dari Wikramawarddhana. Pusat pemerintahan tidak lagi di Majapahit melainkan di Kling karena Majapahit masih dikuasai Bhre Kertabhumi. Ia berusaha mempersatukan kembali Majapahit pada tahun 1478 dengan menyerang Bhre Kertabhumi.

0 Response to "Sejarah Kerajaan Majapahit, dan Daftar Nama Raja Kerajaan Majapahit"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel