Museum Plawangan

Terjan Tempat Penguburan Bercorak Megalitik
Misteri telah hadir di sebuah perbukitan kapur bernama Selodiri, sekitar 5 kilometer sebelah selatan dari garis pantai wilayah Kecamatan Kragan. Tatanan batu berbentuk melingkar dengan kursi – kursi batu serta pahatan – pahatan kepala arca binatang seperti ular, buaya, maupun katak mengisi lahan bagian atas bukit tersebut. Misteri ini diperkuat cerita rakyat yang menyebutkan situs ini merupakan makam Mbah Dresmo, cikal bakal dari Desa Terjan.

Penemuan Fosil di Desa Plawangan
Peristiwa penemuan terjadi pada tahun 1977. Saat itu para pekerja sedang membangun Balai Desa Plawangan dan salah seorang dari pekerja tersebut saat sedang mencangkul secara tidak sengaja mengenai rangka manusia purba beserta benda – benda kuno. Temuan tersebut selanjutnya dilaporkan pada pemerintah setempat dan diteruskan kepada Tim Penelitian Arkeologi Nasional yang kebetulan sedang melakukan penelitian di Desa Terjan, tidak jauh dari lokasi tersebut.

Sebagai wujud penyelamatan, saat itu juga tim melakukan ekskavasi di lokasi tersebut dan berhasil menemukan sejumlah data kubur baik primer (penguburan pertama) dan sekunder (penguburan kedua) beserta bekal kuburnya. Akhirnya Plawangan dinyatakan sebagai situs arkeologi yang sangat potensial dalam hal data materi kubur, mewakili pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Situs ini kemudian ditentukan sebagai objek penelitian arkeologi secara bertahap sejak tahun 1977 dan 1978 dengan jangkauan area di Desa Plawangan dan Balungmulyo. Berbagai bentuk penelitian juga dilakukan baik berupa penelitian survei permukaan tanah pada tahun 1982 dan 1987, penelitian geologi pada tahun 1985, penelitian etnoarkeologi pada tahun 1982 dan 1987, dan yang paling utama adalah penelitian ekskavasi dari tahun 1977, 1978, 1980-1986, 1988-1989, dan kegiatan analisis hasil penelitian dari tahun 1990-1993. Kegiatan ekskavasi ini berhasil membuka sejumlah 45 lubang ekskavasi yang terdiri dari 42 lubang di wilayah Desa Plawangan dan 3 lubang di wilayah Desa Balongmulyo. Sejumlah sisa – sisa peradaban kuno diungkap kembali seperti tembikar, artefak besi, perunggu, dan emas, manik – manik dari kaca, tulang ikan, batu dan terakota, keramik asing, rangka manusia, dan sejumlah sisa-sisa hewan baik vertebrata maupun invertebrata.

Lingkungan Kawasan Pesisir Utara Lasem Timur Lereng Gunung Lasem Utara
Kawasan Pantai Utara Lasem Timur – Lereng Gunung Lasem Utara merupakan wilayah munculnya bukti – bukti sebuah peradaban kuno yang diperkirakan berumur sekitar 2000 tahun silam, dicirikan dari Zaman Prasejarah. Kawasan ini mempunyai kandungan artefak prasejarah yang sangat potensial dengan batas – batas meliputi daerah Sendang Coyo, Lasem di sebelah barat, Sambon (Kragan) di sebelah timur, dan Terjan di sebelah selatan.

Fisiografis Kawasan Pantai Utara Lasem Timur-Lereng Gunung Lasem Utara termasuk ke dalam zona Rembang (Bemmelen 1949) dengan batasan di sepanjang pantai utara Jawa, dari Kudus-Pati (Jawa Tengah) sampai Lamongan (Jawa Timur).

Secara geomorfologi terdapat dua satuan morfologi meliputi perbukitan volkanik dan unduk pantai. Morfologi perbukitan volkanik menempati bagian selatan dari undak pantai dengan penyebaran meluas ke arah barat, timur, dan selatan mencakup Binangun sampai Terjan. Litologi satuan ini berupa endapan kegiatan gunung berapi, yaitu batu breksi volkanik, tufa, serta intrusi batuan beku andesit.

Morfologi undak pantai menempati seluruh dataran tepi pantai sampai lereng Gunung Lasem Utara dengan penyebaran dari Jatisari sampai Plawangan. Morfologi ini mempunyai ciri khas berupa dataran berundak. Ketinggian undak pantai berkisar antara 4-75 meter dari muka laut yang dibagi menjadi 4 undakan dengan masing – masing ketebalan antara 1-2 meter. Litologinya berupa fragmen batuan beku, fosil koral, dan moluska.

Plawangan: Jejak Kehidupan Nenek Moyang
Plawangan sebuah desa kecil di pesisir pantai utara Jawa Tengah, mempunyai warna sendiri dalam memberikan gambaran perkembangan kehidupan budaya masyarakat pada masa silam. Peradaban yang semula terpendam akhirnya terkuak kembali di lahan sekitar 90 hektar di tepi jalan raya km 34-36 antara Lasem dan Tuban dengan koordinat antara 111¬o 35’ 16” – 111o 37’17 BT dan antara 6o39’44” – 6o41’45” LS. Wilayah ini menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupan manusia ribuan tahun silam. Tanda – tanda kehidupan masyarakat yang cukup kompleks telah hadir, dicirikan oleh sisa – sisa pemukiman berupa artefak untuk keperluan sehari – hari seperti tembikar, alat – alat dari logam dan perhiasan.

Kampung – kampung nelayan merupakan ciri dari pemukiman pesisir. Demikian pula dengan Plawangan, kondisi pantai yang landai serta tidak berkarang sangat memungkinkan untuk menjadi tempat berlabuhnya perahu – perahu nelayan. Kehidupan sehari – hari masyarakat pesisir tidak terlepas dari mata pencaharian di laut. Berbagai temuan seperti tulang – tulang ikan dan cangkang – cangkang moluska dari hasil ekskavasi memberikan bukti bahwa sumberdaya air laut tersebut pernah dieksploitasi pada waktu itu. Plawangan juga menjadi tempat yang strategis bagi kegiatan perdagangan antara masyarakat dari pedalaman dengan masyarakat pesisir, serta dengan pedagang – pedagang dari luar melalui laut.

Masyarakat perdagangan internusa antara India dan Cina memicu para pedagang mencari lokasi – lokasi yang sangat potensial bagi kegiatan mereka. Perlu diketahui bahwa kepulauan Nusantara merupakan wilayah yang strategis karena terletak di persimpangan antara Samudera Hindai dan Samudera Pasifik serta antara Benua Asia dan Benua Australia. Ole sebab itu pesisir utara Jawa tempat Plawangan berada, merupakan jalur lalu lintas perdagangan internusa antara Cina dan India sangat potensial. Mereka mencari rempah – rempah di wilayah Nusantara yang sangat potensial bagi jalur perdagangan internusa antara Cina dan India. Selain mencari rempah – rempah mereka juga membawa sejumlah barang berharga yang dipakai sebagai pertukaran seperti keramik, manik – manik, maupun nekara perunggu.

Disisi lain, sebagai komunitas yang cukup padat Situs Plawangan ditandai oleh adanya kuburan sebagai bagian dari sistem pemukiman. Hasil penelitian di wilayah ini telah ditemukan sekitar 42 individu rangka manusia yang dikuburkan. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas masyarakat Plawangan cukup banyak sehingga dapat diasumsikan bahwa situs ini merupakan hunian yang dengan populasi penduduk tidak sedikit.

Plawangan Kubur Prasejarah di Pesisir Utara Jawa
Penelitian Situs Plawangan mengindikasikan sebagai sebuah situs penguburan di Pesisir Utara Jawa yang berkembang pada masa akhir Prasejarah (Zaman Paleometalik). Dari hasil ekskavasi sebanyak 45 kotak gali, memberikan bukti arkeologi yang paling dominan berupa aktivitas penguburan. Sebanyak 42 individu rangka manusia ditemukan selama ekskavasi berlangsung. Rangka – rangka manusia menggambarkan bahwa penduduk yang mendiami situs ini berasal dari ras Mongoloid dengan sedikit ciri – ciri Australomelanesid. Rangka – rangka tersebut ditemukan dengan berbagai variasi, baik posisi, orientasi, maupun jenis bekal kubur. Variasi kubur – lubur Plawangan menunjukkan bentuk penguburan dengan wadah dan penguburan tanpa wadah.

Penyebaran temuan 42 individu rangka terbagi menjadi empat kelompok lokasi. Lokasi pertama terletak di belakang bangunan Balai Desa lama (sekarang sudah menjadi Puskesmas) merupakan kelompok penguburan dengan jumlah temuan rangka sebanyak 22 individu. Lokasi kedua terletak 40 meter di sebelah timur laut kelompok pertama dengan temuan rangka sebanyak 11 individu. Lokasi ketiga terletak 15 meter di sebelah barat laut kelompok kedua atau 35 meter di sebalah timur laut kelompok pertama dengan jumlah rangka sebanyak 6 individu, dan lokasi keempat terletak 90 meter di sebelah barat laut kelompok pertama dengan jumlah temuan rangka sebanyak 3 individu.

Data kubur menunjukkan 2 ciri yang berbeda yaitu kelompok pertama, sebagian besar mencirikan prasejarah dengan jumlah 39 kubur dengan berbagai variasi baik dengan atau tanpa wadah, baik kubur primer maupun sekunder. Kelompok kedua mencirikan penguburan Islam dengan ciri – ciri rangka membujur ke utara. Kedua kelompok ini saling tumpang tindih antara kubur prasejarah dengan kubur Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Situs Plawangan telah dimanfaatkan sejak masa prasejarah hingga masa – masa kemudian.

Tembikar dan Tanah Liat Bakar
Tembikar atau benda – benda tanah liat bakar banyak ditemukan dalam penelitian (penggalian) arkeologi di Situs Plawangan berupa periuk, cawan, tutup periuk, tempayan, dan bandul jala. Benda – benda tersebut sebagian besar ditemukan dalam keadaan pecah (fragmentaris) dan sebagian ada yang masih utuh. Tembikar Plawangan terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu gerabah polos dan berhias. Pada umumnya motif gerabah hias menggambarkan pola garis lurus, garis gelombang, tali, segitiga, kulit kerang, pola ujung jari dan sebagainya. Gerabah Plawangan umumnya dibuat dengan teknik tangan dan roda putar serta sudah mendapat pengaruh dari tradisi sa-huynh-kalanay dan bau-malayu.

Tinggalan tembikar dan benda – benda tanah liat bakar (bandul jala) di Situs Plawangan mengandung 2 fungsi yaitu : fungsi ekonomis (profan) sebagai peralatan untuk menunjang kehidupan masyarakat sehari – hari, dan fungsi sakral (religi) yang dipakai sebagai wadah atau bekal kubur bagi orang yang telah meninggal.

Hampir dipastikan setiap kubur di Plawangan memanfaatkan tembikar. Jenis tempayan banyak yang dipakai sebagai wadah kubur dan berisi tulang – tulang manusia, sedangkan cawan dan periuk seringkali disertakan sebagai bekal kubur. Tempayan yang dipakai untuk wadah penguburan umumnya berbentuk bulat atau silindris sedangkan cawan dan periuk umumnya berbentuk bulat atau berkarinasi. Keberadaan tinggalan tembikar dan benda – benda tanah liat bakar (bandul jala) di Pawangan telah memberikan petunjuk kuat adanya kelompok golongan masyarakat tertentu (undagi) di daerah pesisir yang sudah mampu membuat dan memproduksi gerabah. Dari data etnografi juga memberikan petunjuk adanya para pembuat gerabah tradisional di wilayah sekitar Plawangan yang masih eksis sampai sekarang.

Jejak Tinggalan Budaya Nenek Moyang di Plawangan
Plawangan sebagai wilayah komunitas budaya, tidak terlepas dari sistem pemukiman yang ada. Pemukiman sebagai bentang ruang kegiatan manusia dibagi dalam beberapa subsistem menyangkut hunian, perbengkelan, kubur, upacara, maupun pasar. Bukti – bukti arkeologi membuktikan adanya situs penguburan dengan tinggalan berupa sisa – sisa rangka manusia bersama bekal kuburnya. Di samping data yang mengacu pada kegiatan penguburan, Plawangan juga memberikan informasi keberadaan jejak – jejak tinggalan budaya nenek moyang. Ekskavasi lebih cenderung terkait dengan lokasi pemukiman. Beberapa data arkeologi seperti temuan sisa – sisa tembikar, bandul jala, dan uang kepeng memberikan gambaran pelengkap dari aktivitas sehari – hari manusia. Demikian pula dengan artefak yang ditemukan dalam konteks kubur seperti manik – manik, tembikar, artefak dari perunggun dan besi walaupun saat ditemukan berfungsi sebagai bekal kubur tetapi benda – benda tersebut sebelumnya mempunyai peran penting dalam kehidupan sehari – hari mereka.

Mengacu pada tinggalan – tinggalan dalam bentuk logam, umum Situs Plawangan dapat diasumsikan pada masa – masa Palaeometalik atau zaman logam awal. Didukung melalui pertanggalan carbon (C14) terhadap sisa – sisa pembakaran maka dapat diketahui bahwa Situs Plawangan mempunyai umur berkisar 1500 SM dan 400 M.

Penguburan Primer
Penguburan primer diartikan sebagai perilaku penguburan mayat dengan cara mengubur langsung. Kubur – kubur Plawangan yang termasuk dalam kubur primer ditemukan sebanyak 36 individu. Berdasarkan posisinya kubur primer Plawangan terdiri dari posisi membujur terlentang, membujur miring, membujur telungkup, setengah melipat, dan jongkok. Kubur primer umumnya tanpa wadah. Namun ada pengecualian untuk temuan individu rangka pada kotak gali TP XVIII yang menunjukkan diletakkan pada wadah tempayan tanah liat dan rangka R XXVIII pada kotak gali TP IX di dalam nekara perunggu.

Penguburan Sekunder
Penguburan sekunder diartikan sebagai penguburan tidak langsung. Ketika orang meningga maka mayatnya tidak langsung dimasukkan atau dikubur dalam kubur sekundr. Si mayat terlebih dahulu ditanam atau ditempatkan pada suatu lokasi tertentu sambil menunggu persiapan untuk penguburan sekunder. Lamanya waktu pelaksanaan penguburan sekunder tergantung dari kemampuan biaya dari keluarga yang meninggal. Ketika penyelenggaraan upacara penguburan sekunder maka tulang – belulang dari mayat yang ditanam sementara, kemudian dipindahkan ke dalam kubur sekunder. Tidak semua rangka dipindahkan ke kubur sekunder, tetapi dipilih pada bagian – bagian tertentu saja.

Penguburan sekunder Plawangan umumnya menggunakan wadah – wadah kubur tempayan dari tanah liat dan yang spesifik ada satu wadah kubur yang berupa nekara perunggu.

Gacuk, Alat Permainan Zaman Prasejarah
Salah satu temuan yang cukup menarik di Situs Plawangan adalah gacuk. Gacuk didefinisikan sebagai alat yang dibuat dari tanah liat yang dibakar, bentuknya pipih datar dengan sudut – sudutnya dipangkas. Bentuk ini mirip dengan gacuk yang dipakai alat permainan anak – anak. Kalau memang fungsinya sama dengan gacuk sekarang ini, apakah dulu juga telah ada permainan menggunakan alat yang sama?

Pernak – Pernik Manik – Manik di Situs Plawangan
Salah satu benda temuan di dalam nekara perunggu adalah manik – manik. Temuan manik – manik umumnya didapatkan dari hasil penggalian (ekskavasi) dalam konteks kubur. Manik – manik adalah benda – benda kecil berbentuk bulat, oval dan silindris yang berlubang di bagian tengahnya dan kemudian diuntai untuk dibuat perhiasan kalung atau gelang. Dibuat dari bahan batuan, mulisala, kaca, kulit kerang, tulang ikan, emas dan terakota / tanah liat bakar. Ukurannya bervariasi dengan berbagai warna seperti biru, merah, hijau, dan coklat kemerahan.

Keberadaan manik – manik di situs Plawangan mencerminkan bahwa masyarakat pendukung budaya pesisir di Plawangan dahulu sudah mengenal adanya perbedaan status sosial dan gender. Manik – manik yang berfungsi sebagai perhiasan tersebut hanya dipakai oleh para wanita golongan tertentu yang mempunyai kedudukan penting dalam masyarakat, seperti isteri bangsawan atau kepala suku. Karena merupakan benda kesayangan, maka seringkali manik – manik tersebut disertakan sebagai bekal kubur untuk menemani perjalanan orang yang meninggal ke alam arwah. Pada era globalisasi dan modernisasi seperti sekarang, tradisi pemakaian manik – manik sebagai perhiasan dan barang berharga bagi kaum wanita masih tetap berlahan dan terus berlanjut. Di wilayah Indonesia bagian timur (Sumba), pemakaian manik – manik (mulisala) merupakan ciri khas bagi para kaum wanita dari keturunan bangsawan.

Benda – Benda Logam
Berbagai benda – benda logam yang dihasilkan dari penelitian arkeologi di situs Plawangan antara lain berupa: terak dan lempengan besi, pisau, sabit, parang dan mata tombak besi; gelang, cincin, mata kail, genta nekara dan uang kepeng dari perunggu; penutup mulut dan mata dari emas. Pada umumnya benda – benda tersebut ditemukan berasosiasi dengan tulang – tulang (rangka) manusia dalam konteks kubur.

Keberadaan benda – benda logam di situs Plawangan mencerminkan bahwa masyarakat pendukung budaya pesisir ini sudah melakukan aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi dan religius. Dalam fungsi profan (ekonomis), benda – benda logam tersebut berfungsi sebagai peralatan untuk menunjang kehidupan masyarakat sehari – hari, sedangkan dalam fungsi sakral dimanfaatkan sebagai bekal kubur untuk menyertai arwah orang yang meninggal dunia (religius). Temuan benda – benda logam di Plawangan diduga diperoleh melalui cara tukar -menukar barang (barter) dengan masyarakat di daerah pedalaman atau daerah luar.

Nekara Perunggu
Nekara perunggu adalah benda berbentuk bulat seperti gendang atau dandang terbalik yang dibuat dari bahan perunggu. Dalam ukuran atau bentuk yang lebih kecil disebut ‘moko’. Nekara dan moko ini dahulu berfungsi sebagai benda sakral untuk sarana upacara memanggil hujan atau kaitannya dengan kesuburan. Nekara perunggu di Situs Plawangan ditemukan dalam penggalian (ekskavasi) pada tahun 1985 dalam konteks sebagai wadah kubur. Nekara perunggu ini berukuran tinggi 67 cm, diameter bagian atas 53 cm dan diameter bagian bawah 69 cm. Di dalam nekara tersebut terdapat rangka manusia yang disertai dengan bekal periuk, pisau, gelang perunggu, manik – manik dan kerang. Bagian mata dan mulut tengkorak diberi tutup lempengan emas. Di bagian bawah nekara juga terdapat rangka manusia lain dalam posisi tertindih.

Keberadaan nekara perunggu di situs Plawangan sebagai wadah penguburan sangat jarang sekali ditemukan di Indonesia. Nekara perunggu merupakan barang yang sangat langka dan sulit diperoleh sehingga mempunyai nilai yang sangat tinggi. Penggunaan nekara perunggu sebagai wadah penguburan mayat menunjukkan adanya perlakuan khusus dan sangat istimewa bagi orang yang dikuburkan. Pemberian kubur istimewa hanya diberikan kepada orang yang pada masa hidupnya mempunyai kedudukan penting atau tertentu di masyarakat. Sebaliknya, bagi orang biasa yang tidak dianggap penting, mereka hanya dikuburkan dengan perlengkapan sederhana. Penguburan seperti ini mencerminkan adanya sistem religi dan mencerminkan adanya perbedaan status sosial bagi penduduk budaya pesisir di Plawangan yang berorientasi kepada pengkultusan dan penghormatan terhadap roh orang yang meninggal. Rangka manusia yang dalam posisi tertindih di bawah nekara diduga adalah pelayan setia dari manusia yang dikubur dalam nekara yang mempunyai kedudukan penting atau terhormat.

Tradisi Tradisi Lama yang Masih Bertahan di Sekitar Situs Plawangan
Tradisi pembuatan tembikar sudah memasuki usia yang cukup tua dalam perkembangan kebudayaan manusia. Tembikar sudah dikenal manusia sejak masa bercocok tanam (zaman neolitik) sekitar 4000 tahun yang lalu. Tembikar merupakan budaya materi yang diciptakan oleh manusia dari bahan tanah liat yang dibentuk menjadi benda yang diinginkan, lalu dikeringkan dan dibakar untuk membuat benda permanen. Pembuatan tembikar sebagai upaya teknologi yang bersifat aditif dan penciptaannya didasari kebutuhan sebuah tempat. Tembikar digunakan untuk tempat persediaan bahan makanan baik dari tumbuhan maupun hewan. Benda ini juga digunakan sebagai perlengkapan dalam upacara pada masa prasejarah.

Dikisahkan dua buah desa yang masih mempunyai pertalian keluarga yaitu Balongmulyo,1-2 km sebelah timur serta Narukan, 1-2 sebalah selatan situs Plawangan. Di situ terdapat keluarga – keluarga yang membuat kerajinan tembikar. Pada masa lalu pembuatan tembikar merupakan pekerjaan pokok dari penduduk ke dua desa itu. Akan tetapi sekarang hanyalah pekerjaan sampingan ketika waktu luang. Tembikar yang dihasilkan umumnya berbentuk periuk, cawan besar, pasu, jun, gentong, cobek, dan kekp (tutup). Tembikar warna kuning kemerahan, sebagian dilapisi atau dihias oleh warna merah. Teknik pembuatannya menggunakan roda putar lambat digabung dengan tatap landas (paddle and anvil), dengan sistem pembakaran terbuka (open firing).

Tradisi Pande Besi Gandrirejo Nasibmu Menunggu Kepunahan
Gandrirejo sebuah desa berjarak 5 kilometer sebelah selatan Desa Terjan merupakan tempat sekelompok perajin pande logam bermukim. Awalnya terdapat sekitar 20 perajin, yang menurut informasi masyarakat setempat para perajin ini berasal dari darah pesisir (Plawangan dan sekitarnya). Pembuatan alat logam merupakan tradisi turun temurun, sayangnya karena perkembangan zaman lama kelamaan kondisinya semakin kembang kempis dan mulai mengalami kepunahannya. Tidak lebih dari 2 kelompok yang masih berproduksi antara lain menerima pesanan dari masyarakat setempat untuk memperbaiki alat – alat pertanian yang rusak.

Dalam melakukan pekerjaannya, bahan baku yang dipergunakan adalah lempengan – lempengan (rosok) atau palangan besi. Adapun alat yang digunakan meliputi : corek, garuk, supit, kepyok, paat, martil, kikir, ububan, tungku, pelandas besi, bak air, alat bubut. Dalam pengerjaan setiap kelompok terdiri dari 3 atau 4 orang. Seorang menyelesaikan benda – benda yang dihasilkan, dua orang menggerakkan ububan dan seorang lagi melakukan pembubutan.

Sumber : Museum Situs Plawangan

Dokumentasi Museum Plawangan







0 Response to "Museum Plawangan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel