Sejarah Goa Gajah, Gianyar, Bali

Goa Gajah terletak di sebelah Barat desa Dedulu, kecamatan Blahbatu, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Nama Goa Gajah berasal dari kata “Lwa Gajah”. Nama “Lwa Gajah” diambil dari Wihara atau pertapaan bagi biksu dalam agama Budha. Kata Lwa atau Lwah (Loh) memiliki arti sungai. Dari kata tersebut dapat dipahami bahwa Lwah Gajah adalah pertapaan yang terletak di Sungai Gajah atau di Air Gajah.

Goa Gajah sendiri dibangun pada abad ke-11 Masehi, pada masa pemerintahan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Goa ini pernah dijadikan sebagai tempat pertapaan, yang dibuktikan dengan adanya ceruk-ceruk yang ada didalam goa. Selain Goa Gajah, telah ditemukan kolam pertitaan dengan tujuh patung widyadara-widyadari yang sedang memegangi air suci. Namun hanya enam patung saja yang berada dilokasi tersebut, karena satu patung telah dipindahkan ke lokasi lain, akibat gempa beberapa tahun yang lalu.

Agama Hindhu telah masuk di Bali sebelum abad ke-8 Masehi. Berkembangnya ajaran agama yang dianut oleh raja dan rakyat tentunya melalui proses yang cukup panjang. Hindhu sekte Siwa Siddhanta sudah masuk secara perlahan-lahan sebelum abad ke-2 hingga ke-8 Masehi. Gajah merujuk pada Ganesha salah satu Dewa Hindhu yang terkenal dan dipuja serta merupakan putra dewa Siwa. Ganesha merupakan lambang penghilang segala rintangan dan kemalangan serta dewa kebijaksanaan, kecerdasan, perlindungan seni dan ilmu pengetahuan.

Di Bali Ganesha disebut dengan Gana. Adapun bukti lain mengenai masuknya pengarh Hindhu yang ditemukan didesa Bedulu adalah Arca Siwa Caturbhuja yang terdapat di pura desa Alit. Materai dan Arca Siwa Caturbhuja yang terdapat didesa Bedulu diperkirakan berasal dari masa Hindhu Bali yaitu pada abad 8-10 Masehi.

Selain bukti-bukti diatas masih ada beberapa peninggalan, seperti:
1. Pura Goa Gajah
2. Petitraan atau tempat pemandian
3. Bhoma
4. Trilingga
5. Patung Ganesha
6. Rumah kecil penyimpan tiga patung kuno

Cataan sejarah menunjukkan Agama Budha diperkirakan masuk ke pulau Dewata pada abad ke 7-8. Bukti sejarah seperti stupika (stupa), candi patung-patung Budha yang ditemukan diwilayah Kabupaten Gianyar, Klungkung, Karangasem, dan Buleleng. Terakhir diketemukan stupa-stupa di desa Kalibukbuk.

Diluar Goa disebelah Baratnya ada arca Budhis yaitu Dewi Hariti di Bali disebut arca Men Brayut. Arca ini dilukiskan sebagai seorang wanita yang memangku banyak anak. Disebelah selatan Goa Gajah melalui parit diketemukan arca Budha dalam sikap Dhyani Budha Amitaba. Budha dalam sikap Dhyani Budha Amitaba ini dalam sistem pantheon Budha Mahayana sebagai Budha pelindung arah barat alam semesta.

Kompleks goa dan tempat pemandian berada disebelah barat sungai Petanu. Bagian sebelah timur ditemukan goa alami dan jenis patung-patung Budha serta pahatan-pahatan batu tebing yang sebagian besar telah jatuh kepinggiran sungai yang juga akibat gempa bumi.

Dari uraian diatas, diketahui bahwa di Goa Gajah pernah hidup dua kepercayaan, yaitu Hindu dan Buddha, yang meskipun kedatangannya tidak bersamaan, namun pernah hidup secara berdampingan. Hindu dan Buddha yang berlangsung secara berdampingan, penuh toleransi dan mengahsilkan keharmonisan hidup. Salah satu bentuk keharmonisan tersebut terletak pada adanya saling tolong-menolong dan saling menghargai privasi masing-masing agama. Dalam kehidupan sehari-hari ketika ada upacara keagamaan, mereka saling membantu untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk ritual upacara. Pengfungsian kolam petirtaan juga digunakan oleh kedua agama. Bentuk lainnya adalah adanya patung Ganesha yang bercorak Hindu dan Dewi Hariti yang lebih bercorak Buddha yang diletakkan secara berdampingan. Dan yang paling penting adalah ikatan kekeluargaan Hindu-Buddha di Goa Gajah adalah hal yang sangat baik dan menunjukkan tingginya peradaban serta nilai sosial. Hal ini karena masyarakat benar-benar menanamkan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

0 Response to "Sejarah Goa Gajah, Gianyar, Bali"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel