Manajemen Personel

Manajemen personal merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan serta diberlakukan kepada para pegawai sekolah untuk dapat menunjang aktivitas bidang pendidikan demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan. Pegawai sekolah terdiri dari tenaga edukatif dan tenaga non edukatif. Tenaga edukatif terdiri dari guru tetap, guru honorer, dan guru bantuan tetap. Sedangkan tenaga non edukatif terdiri dari pegawai tata usaha tetap dan honorer.

Kegiatan administrasi personel meliputi penyiapan atau pengadaan; penataan atau penempatan, dan pengangkatan; pengembangan; penilaian, pemberian kompensasi, dan pemberhentian atau pemutusan hubungan kerja. Penyiapan atau pengadaan pegawai misalnya Pegawai Negeri Sipil adalah kegiatan untuk mengisi formasi pegawai yang lowong. Lowongnya formasi pegawai biasanya disebabkan oleh adanya pegawai yang terhenti atau adanya perluasan organisasi. Pengadaan pegawai baru harus memperhatikan keperluan kualitas dan berapa jumlah yang dibutuhkan. Setiap orang yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi pegawai.

Penataan atau penempatan, dan pengangkatan pegawai merupakan hal yang sangat penting dalam manajemen personel. Penataan atau penempatan dilakukan agar para pegawai dapat melaksanakan tugasnya secara tepat guna dan berhasil guna. Penataan atau penempatan pegawai harus memperhatikan latar belakang pendidikan, keahlian, minat kerja, pengalaman kerja, sikap, dan sifat pribadi dari calon pegawai. berbagai hal, diantaranya adalah prestasi kerja, disiplin kerja, Pengangkatan jabatan pegawai juga harus memperhatikan kesetiaan, pengabdian, pengalaman, dapat dipercaya, dan syarat-syarat obyektif lainnya.

Pengembangan pegawai merupakan suatu kondisi yang menunjukkan adanya peningkatan kualitas pegawai sehingga dapat mengurangi ketergantungan organisasi untuk menarik pegawai baru. Pengembangan pegawai meliputi pengembangan karir dan pengembangan kemampuan kerja. Pengembangan karir berkaitan dengan posisi atau jabatan sesuai dengan struktur organisasi. Sedangkan pengembangan kemampuan kerja adalah cara-cara yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan pegawai, baik secara formal maupun informal.

Pengembangan pegawai dapat dilakukan secara pribadi dan secara institusional. Pengembangan secara pribadi umumnya ditempuh dengan biaya sendiri atau swasta. Hal ini bisa dicontohkan dengan melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi, baik formal maupun informal. Pengembangan pegawai secara institusional dapat melalui tugas belajar, penataran, lokakarya, rapat kerja, seminar, penyediaan berbagai perangkat untuk menunjang tugas sehari-hari.

Penilaian pelaksanaan kerja pegawai merupakan alat terkendali agar apa yang dikerjakan oleh pegawai sesuai dengan apa yang diinginkan oleh institusi atau organisasi. Sistem penilaian kerja secara umum terdiri dari empat tahap. Tahap pertama adalah menentukan apa-apa yang akan dinilai. Tahap selanjutnya adalah menentukan waktu penilaian. Tahap yang ketiga adalah menentukan siapa-siapa yang akan menilai, dan tahap yang terakhir adalah menentukan metode penilaian.

Pemberian kompensasi merupakan kegiatan pemberian balas jasa kepada pegawai. Jasa yang diberikan kepada pegawai dapat berupa finansial atau non finansial. Pemberian jasa ini dapat mendorong prestasi pegawai, sehingga prestasi organisasi atau institusi juga mengalami peningkatan.

Pemberhentian atau pemutusan hubungan kerja terjadi karena kemauan sendiri dan adanya kelebihan pegawai. Selain itu, juga ada pemutusan hubungan kerja yang dikarenakan telah mencapai batas usia pensiun, melakukan pelanggaran tindakan pidana penyelewengan, dan karena hal-hal lain. Pemberhentian hubungan kerja adakalanya secara hormat dan secara tidak hormat. Kecenderungan utama dan krisis yang mempengaruhi manajemen pendidikan dalam pelaksanaannya adalah biaya yang dikaitkan dengan faktor sumber daya manusia, krisis produktivitas, kompleknya perubahan yang terjadi, dan masalah personalia yang terjadi di tempat kerja. Sumber keuangan bukan merupakan satu-satunya aset terpenting dalam sekolah, melainkan SDM yang tepat dan mampu mengelola organisasi sekolah secara efektif. Efektifitas SDM mempengaruhi produktivitas. Semakin efektif seorang guru, maka dapat diprediksi akan memberi kontribusi yang lebih besar bagi pencapain produktivitas sekolah. Selain efektif, guru juga diharapkan memberikan sumbangan yang signifikan bagi kelangsungan sekolah dalam situasi yang terus mengalami perubahan. Adakalanya, guru mengalami masalah di tempat kerja seperti kejenuhan dalam kegiatan pembelajaran, dan tidak dapat memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Oleh karena itu, adanya program manajemen personel bermaksud untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mencapai tujuan pendidikan sekolah.

0 Response to "Manajemen Personel"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel