Perluasan Sumber - Sumber Sejarah dalam Penulisan Historiografi

Sumber-sumber sejarah yang digunakan dalam penulisan Historiografi Indonesia
Sumber sejarah adalah bahan yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Menurut Moh Ali, sumber sejarah adalah segala sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud serta berguna bagi penelitian sejarah Indonesia sejak zaman Purba sampai Zidi Gozalba atau sekarang. Sementara Muh. Yamin mengatakan bahwa sumber sejarah adalah kumpulan benda kebudayaan untuk membuktikan sejarah. Bagi sejarawan, sumber sejarah ini merupakan alat, bukan tujuan akhir. Adanya sumber sejarah merupakan bukti dan fakta adanya kenyataan sejarah. Dengan sumber sejarah inilah, sejarawan dapat mengetahui kenyataan sejarah. Tanpa adanya sumber, sejarawan tidak akan bisa berbicara apa-apa tentang masa lalu; begitu pula tanpa sentuhan sejarawan, sumber sejarah pun belum bisa banyak bicara apa-apa.

Dilihat dari sifatnya, sumber sejarah dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer dapat berupa orang yang langsung menyaksikan kejadian suatu peristiwa atau catatan yang dibuat pada zamannya dengan bentuk tulisan, isi, dan bahan yang sezaman. Tetapi apabila orang yang tidak langsung menyaksikan suatu peristiwa tetapi ia mengetahuinya, maka termasuk sumber sekunder. Sumber sekunder dalam bentuk tertulis dapat berupa catatan tertulis yang bentuk tulisan dan bahannya tidak sezaman. Apabila dilihat dari bentuknya, maka terdapat sumber tertulis, sumber lisan, dan sumber dalam wujud benda fisik atau artefak.

1. Sumber Tertulis
Sumber tertulis adalah sumber sejarah yang diperoleh melalui peninggalan-peninggalan tertulis, catatan peristiwa yang terjadi di masa lampau, misalnya prasasti, dokumen, naskah, piagam, babad, surat kabar, tambo (catatan tahunan dari Cina), dan rekaman. Sumber tertulis dibedakan menjadi dua, yaitu sumber primer (dokumen) dan sumber sekunder (buku perpustakaan). Biasanya sumber tertulis dapat memberikan informasi aspek-aspek yang akan kita teliti, misalnya aspek sosial, ekonomi, budaya, politik, dan lain-lain. Dilihat dari segi bentuknya, sumber tertulis dapat berbentuk tulisan yang tercetak dan tulisan yang masih ditulis tangan atau manuskrip. Ada beberapa contoh sumber tertulis yang dapat dijadikan sumber penelitian sejarah, yaitu sebagai berikut :
  • Laporan-laporan
    Laporan-laporan dapat berupa laporan yang dibuat oleh lembaga pemerintah atau lembaga non pemerintah. Pembuatan laporan biasanya dilakukan per tahun. Jadi, kita bisa menggunakan laporan tahunan. Pada lembaga-lembaga pemerintah, biasanya suka dibuat laporan tahunan. Sedangkan laporan non pemerintah misalnya laporan perusahaan. Dengan adanya laporan tahunan perusahaan kita akan mengetahui bagaimana perkembangan perusahaan dalam periode tertentu.
     
  • Notulen rapat
    Notulen rapat adalah catatan-catatan yang berisi tentang hal-hal yang menjadi materi penting dalam pembicaraan rapat. Catatan dibuat biasanya oleh salah seorang yang ditunjuk atau ditugaskan untuk menjadi pencatat atau sekretaris. Notulen rapat memberikan informasi yang berharga dalam penelitian sejarah, apalagi bila notulen rapat yang kita temukan itu masih dalam bentuk tulisan tangan si petugas penulis. Apabila kita menemukan bentuk notulen rapat yang demikian, maka itu termasuk sumber primer. Dalam notulen rapat, biasanya terdapat materi penting yang menjadi bahasan rapat.
     
  • Surat-surat
    Surat-surat dapat menjadi sumber sejarah baik surat-surat pribadi maupun surat-surat resmi yang dibuat oleh pemerintah. Dalam surat kita bisa melihat tanggal, ditujukan kepada siapa, dari siapa (pembuat), dan isi dari surat itu. Isi surat ini akan memberikan suatu informasi penting apa yang terjadi pada saat itu. Surat biasanya dapat berupa tulisan yang singkat, dapat pula surat yang panjang dan ada lampirannya. Baik surat yang pendek maupun surat yang panjang merupakan sesuatu yang berharga dalam penelitian sejarah. Apabila kita menemukan surat yang ada lampirannya, maka kita kemungkinan akan menemukan banyak data atau informasi yang kita butuhkan dalam penelitian.
     
  • Surat Kabar
    Dalam surat kabar biasanya banyak berita yang memuat tentang hal- hal yang terjadi di masyarakat. Berita-berita tersebut merupakan sumber yang berharga bagi peneliti sejarah. Peneliti sejarah dapat menyeleksi bagian mana dari berita itu yang dapat dijadikan sumber bagi penelitiannya. Sumber tertulis ini yang banyak merekam atau mencatat kejadian- kejadian sehari-hari yang terjadi di masyarakat. Berita yang dimuat dalam surat kabar sangat beragam, ada berita ekonomi, politik, sosial dan budaya. Bagi peneliti sejarah, berita-berita tersebut dapat dijadikan sebagai sumber bahan penelitianya. Sumber yang digunakan tergantung pada tema penelitian yang ditelitinya. Berita dari yang disajikan oleh surat kabar yang satu dengan yang lainnya, kemungkinan akan menunjukkan suatu analisis yang beragam. Perbedaan ini disebabkan oleh kepentingan dari masing-masing penerbit surat kabar. Setiap surat kabar memiliki kepentingan atau misi untuk membentuk opini atau pendapat masyarakat. Surat kabar yang diterbitkan oleh pemerintah dan nonpemerintah tentu akan memiliki perbedaan dalam menilai suatu peristiwa.
     
  • Catatan pribadi
    Catatan pribadi adalah catatan yang dibuat oleh seorang individu yang menceritakan pengalamannya yang ia pandang penting untuk dicatat. Biasanya ada orang-orang tertentu yang memiliki kebiasaan untuk menulis pengalamannya. Bahkan yang ia catat bukan sekedar apa yang terjadi pada dirinya, tetapi mungkin mencatat pengalaman orang lain yang ia lihat. Catatan pribadi ini dapat memberikan informasi yang mungkin saja tidak terdapat pada laporan-laporan resmi, misalnya laporan resmi pemerintah. Ada pula dari catatan-catatan pribadi ini yang kemudian disusun oleh si pemilik catatan tersebut menjadi sebuah autobiografi atau memoar.

2. Sumber Lisan

Sumber lisan merupakan cara pengumpulan data yang dilakukan dengan cara metode sejarah lisan. Sejarah lisan adalah satu dari sumber sejarah yang ada pada ingtan pelaku dan atau penyaksi suatu peristiwa sejarah, yang terjadi pada zamannya, kemudian diungkapkan secara lisan oleh pelaku dan penyaksi sejarah itu sendiri. Si Pelisan atau sumber lisan bertanggung jawab atas kebenaran kejadian yang dikisahkannya, sehingga informasi lisannya itu dapat dipergunakan sebagai sumber dalam penulisan sejarah. Sumber lisan berfungsi sebagai pelengkap sumber tertulis belum memadai. Sumber lisan memiliki keterbatasan-keterbatasan dibanding dengan sumber tertulis atau artefak. Keterbatasan sumber lisan lebih disebabkan oleh faktor manusia sebagai sumber. Kemungkinan kita kehilangan sumber lisan apabila orang yang kita cari telah meninggal. Dengan demikian, kita akan memburu dengan faktor umur yang dimiliki oleh orang yang akan kita wawancarai. Daya ingat yang dimiliki, oleh manusia sangat terbatas. Hal ini dapat menjadi keterbatasan dalam sumber lisan. Semakin jauh jarak antara peristiwa yang dialami oleh seorang tokoh yang kita wawancarai kemungkinan besar orang tersebut semakin lupa. Keterbatasan memori yang dimiliki oleh tokoh yang kita wawancarai akan membuat sumber inforamsi yang kita butuhkan menjadi kurang akurat. Cara yang dilakukan untuk memperoleh sumber lisan, yaitu dengan melakukan wawancara. Sebelum melakukan wawancara terlebih dahulu kita harus memiliki persiapan yang matang. Hal yang harus dipersiapkan adalah kita harus memiliki pengetahuan tentang hal yang akan kita tanyakan.

3. Sumber Benda
Sumber benda adalah sumber sejarah yang diperoleh dari peninggalan benda- benda kebudayaan. Sumber benda disebut juga sebagai sumber korporal, yaitu benda-benda peninggalan masa lampau, misalnya, alat-alat atau benda budaya, seperti kapak, gerabah, perhiasan, manik-manik, candi, dan patung.

4. Sumber Rekaman
Sumber rekaman dapat berupa rekaman kaset audio dan rekaman kaset video. Banyak peristiwa sejarah yang dapat terekam, misalnya Masa Pendudukan Jepang, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Perang Kemerdekaan dan sebagainya. Sumber-sumber sejarah tersebut belum tentu seluruhnya dapat menginformasikan kebenaran secara pasti. Oleh karena itu,sumber sejarah tersebut perlu diteliti, dikaji, dianalisis, dan ditafsirkan dengan cermat oleh para ahli. Untuk mengungkap sumber-sumber sejarah di atas diperlukan berbagai ilmu bantu, seperti:
  1. epigrafi, yaitu ilmu yang mempelajari tulisan kuno atau prasasti; 
  2. arkeologi, yaitu ilmu yang mempelajari benda/peninggalan kuno; 
  3. ikonografi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang patung; 
  4. nomismatik, yaitu ilmu yang mempelajari tentang mata uang; 
  5. ceramologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang keramik; 
  6. geologi, yaitu ilmu yang mempelajari lapisan bumi 
  7. antropologi, yaitu ilmu yang mempelajari asal-usul kejadian serta perkembangan makhluk manusia dan kebudayaannya; 
  8. paleontologi, yaitu ilmu yang mempelajari sisa makhluk hidup yang sudah membatu; 
  9. paleoantropologi, yaitu ilmu yang mempelajari bentuk manusia yang paling sederhana hingga sekarang; 
  10. sosiologi, yaitu ilmu yang mempelajari sifat keadaan dan pertumbuhan masyarakat; 
  11. filologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat di bahan-bahan tertulis.

Perluasaan sumber-sumber sejarah yang digunakan dalam penulisan Historiografi Indonesia
A. Perluasan Sumber Tertulis atau Dokumenter dalam Penulisan Historiografi Indonesia
Satu langkah penting dalam Historiografi Indonesia adalah sejauhmana pengetahuan mengenali sumber tertulis sebagai sumber utama dalam penelitiannya. Tidak semua sumber tertulis dapat menjadi sumber sejarah. Sumber-sumber tertulis yang diperoleh terlebih dahulu harus diklasifikasi dan diuji, sehingga dapat dijadikan sebagai sumber yang mendukung data sejarah. Penilaian Sumber tertulis sebagai sebuah data sejarah tidak hanya dilakukan berdasarkan interpretasi sumber tertulis serta isinya, dalam arti menyangkut bagaimana mengetrapkan konsep-konsep, dan kategori-kategori atau teori. Juga termasuk mempelajari bagaimana menyeleksi, mengenterprestasikan, mengklasifikasi dan menyusunnya berdasarkan kategori kedekatan sumber pada obyek masalah. Penggunaan bahan dokumenter setidaknya sangat membantu dalam Historiografi Indonesia termasuk sejarah dalam menyelidiki perkembangan masyarakat di masa lampau. Lebih jauh lagi akan terlihat jika telah mengetahui cara atau prosedur dalam menggunakan bahan dokumen sebagai bahan penelitian.

Metode dokumenter merupakan salah satu jenis metode yang sering digunakan dalam Historiografi Indonesia yang berkaitan dengan teknik pengumpulan datanya. Data dalam penulisan Historiografi Indonesia kebanyakan diperoleh dari sumber manusia atau human resources, melalui observasi dan wawancara. Akan tetapi ada pula sumber bukan manusia, non human resources, diantaranya dokumen, foto dan bahan statistik. Studi dokumen yang dilakukan posisinya dapat dipandang sebagai ”narasumber” yang dapat menjawab pertanyaan; ”Apa tujuan dokumen itu ditulis?, Apa latarbelakangnya?, Apa yang dapat dikatakan dokumen itu kepada peneliti?”. Kajian dokumen merupakan sarana pembantu dalam mengumpulkan data atau informasi dengan cara membaca surat-surat, pengumuman, iktisar rapat, pernyataan tertulis kebijakan tertentu dan bahan-bahan tulisan lainnya. Metode pencarian data ini sangat bermanfaat karena dapat dilakukan dengan tanpa mengganggu obyek atau suasana penelitian. Dalam menghadapi bahan dokumenter, penggunaan konstruksi konseptual dan teoritis akan mempertinggi potensi heuristisnya dan dapat diperbaiki metodologinya. Dalam ilmu sejarah sebuah dokumen sebelum dapat digunakan sebagai data penelitiannya, harus mengalami penyeleksian yang ketat. Dalam ilmu atau metodologi sejarah itu disebut dengan kritisisme historis. Yaitu suatu usaha sejarawan untuk mampu memberikan kritik terhadap nilai sebuah sumber seperti keasliannya (orisinalitas), bahan, bahkan maksud serta makna sebuah dokumen tersebut dibuat. Kritisisme itu sendiri dibagi menjadi keritik ekstern dan kritik intern.

Penilaian bahan dokumenter atas kegunaannya berdasarkan kriteria yang berhubungan dengan hakekat subyek, komponen-komponen yang essensial, karakteristik, scope waktu serta ruang dari segi subyek itu berada. Dalam Penulisan Historiografi Indonesia penilaian sumber tertulis dikategorikan sebagai kegiatan menganalisis sumber atau memverifikasi sumber guna mendapat satu kesahihan fakta yang berada dibaliknya. Dalam metode sejarah, pembahasan mengenai analisis konten dokumen ini merupakan bagian yang penting yang akan mempertaruhkan kredibilitas hasil penelitian sejarah. Oleh karenanya pembahasan kajian isi ini memiliki segmen khusus dalam pembahasan dan penggunaannya. Adapun yang terpenting dari kajian isi ini berkaitan dengan kritik intern (kredibilitas) dan kritik ekstern (otentisitas) sumber data.

Manfaat Penggunaan sumber tertulis dalam Penulisan Historiografi Indonesia adalah dapat disebutkan beberapa alasan bahan dokumenter diperlukan dalam proses penelitian, seperti: membentuk dan memperbaiki alat konseptual peneliti, menyarankan hipotesa baru, memberikan ilustrasi penelitian, memperoleh fakta baru yang bersifat unik, membuat jembatan antara ilmu pengetahuan dab commons sense, memperhatikan sistem dan metode-metode penelitian yang sesuai, dan memberikan pengawasan fenomena terhada fakta detail dari kehidupan manusia.

Melihat kegunaanya yang sangat penting dalam Penulisan Historiografi Indonesia, bahan dokumenter secara umum dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kegiatan Penulisan Historiografi Indonesia yang lebih komprehensif. Lewat berbagai pendekatan sejarah komprehensif, di mana penggunaan ilmu bantu sejarah seperti ilmu-ilmu kemasyarakatan lainnya. Penggunaan sumber tertulis, untuk saat ini diharapkan dapat menambah gairah baru pada Penulisan Historiografi Indonesia. Artinya dorongan untuk melakukan Penulisan Historiografi Indonesia yang selama ini mengacu pada kegiatan penggalian sumber-sumber yang bersifat sekunder, yaitu pada bahan-bahan yang tersedia secara langsung dari informasi tertulis. Dengan pengetahuan tentang penggunaan bahan dokumenter, para peneliti sejarah mampu memberikan satu alternatif penelitian yang lebih dalam dan berkualitas.

B. Perluasan Sumber Lisan dalam Penulisan Historiografi Indonesia
Arah baru perkembangan historiografi Indonesia sejak tahun 1970an dan 1980an bermula. Tema-tema bergeser dari sejarah orang-orang besar, tradisi besar ke sejarah orang-orang kecil atau rakyat biasa. Persoalannya kemudian tidak hanya pada masalah bagaimana memperoleh sumber informasi baik tertulis maupun lisan, akan tetapi juga terletak pada bagaimana merumuskan pertanyaan-pertanyaan. Tema-tema baru yang nampak dalam perkembangan historiografi Indonesia sejak akhir tahun 1980an dan 1990an menuntut informasi yang lebih bervariasi yang belum tentu dapat ditemukan dalam sumber-sumber tertulis. Penggunaan sumber-sumber lisan merupakan alternatif penting. Sebelum menjelaskan penggunaan sumber-sumber lisan dalam historiografi Indonesia umumnya dan problem yang dihadapi, uraian di bawah ini akan memfokuskan perhatian pada perkembangan historiografi sejarah lisan baik di luar dan di Indonesia sendiri.

  • Perkembangan Historiografi Sejarah Lisan
    Perkembangan historiografi sejarah lisan tidak memperlihatkan sebuah garis yang linear. Di Eropa sampai abad ke 19, boleh dikatakan historiografi sejarah lisan, marginal. Para sejarawan profesional mendasarkan informasi pada arsip-arsip primer dan sumber-sumber dokumenter lainnya. Penggunaan dan validitas pembuktian informasi lisan baru muncul setelah abad ke-19 dan kemudian meningkat sejak Perang Dunia Kedua, seiring dengan meningkatnya teknologi rekaman melalui tape recorder. Waktu dan pola kebangkitan sejarah lisan ini tentu saja berbeda dari suatu negara dengan negara lain. Di Amerika Serikat, pada tahun 1948 kegiatan sejarah lisan dipelopori oleh Universitas Colombia, yang memfokuskan perhatian pada elite, sementara di Inggris dalam tahun 1950an dan 1960an, lebih tertarik merekam pengalaman ‘ordinary working people’.

    Meskipun kemunculan sejarah lisan dan pola-pola perkembangannya bervariasi dari satu negara ke negara lain, tetapi ide-ide dan debat-debat tentangnya terbukti sangat kritis dalam membentuk pendekatan kontemporer untuk sejarah lisan dan terbukti juga sangat mempengaruhi para sejarawan sejarah lisan di berbagai belahan dunia. Di era 1970an, muncul kritik terhadap sejarah lisan mengenai keakuratan pembuktian sumber-sumber lisan. Mereka beragumen bahwa memori tidak dapat digunakan sebagai sumber sejarah yang akurat. Kritik-kritik semacam ini ditangkis oleh Paul Thompson yang beragumen bahwa sejarah lisan telah membawa pergeseran dalam fokus dan membuka areal penelitian baru, dan juga menemukan informasi baru yang tak ada dalam sumber-sumber lisan. Di Amerika Serikat, beberapa sejarawan yang mendasarkan penelitiannya pada sumber-sumber lisan, menemukan bahwa sejarah lisan menjadi ‘alat yang kuat untuk menganalisa dan mengevaluasi sifat dari proses memori sejarah. Pendekatan-pendekatan baru dalam sejarah lisan ini disampaikan dalam sebuah seminar internasional pertama yang diadakan di Essex, Inggris pada tahun 1979, dan diterbitkannya sebuah jurnal internasional mengenai sejarah lisan pada tahun 1980. Sejarah sebagaimana selalu disitir oleh para sejarawan konvensional sebagai ‘sesuatu yang sebenarnya terjadi’ di sini mengalami transformasi. Penulisan sejarah dan pendekatan terhadap sejarah lisan bukan lagi semata-mata sebagai pekerjaan mencari keakuratan data, seperti tanggal, tempat dan sebagainya, akan tetapi yang penting juga adalah mencari peranan subjektivitas dalam sejarah, seperti pengertian-pengertian yang sadar dan tidak sadar mengenai pengalaman sebagaimana dihidupkan, dan diingat. Sejarah lisan juga memperlihatkan bagaimana pengaruh budaya publik dan ideologi atas memori individu atau memori kolektif yang bisa saja diungkapkan dalam bentuk diam dalam wawancara.

    Dilihat dari sudut pendekatan, perkembangan historiografi sejarah lisan kemudian menjadi semakin kompleks, karena dipengaruhi oleh perkembangan-perkembangan metodologis dan teoritis ilmu sosial seperti pendekatan post-strukturalis dan post-modernis. Perkembangan-perkembangan ini membawa perubahan dalam pendekatan sejarah lisan. Pendekatan-pendekatan untuk melakukan wawancara dan menginterpretasikan hasil wawancara membutuhkan alat dari berbagai disiplin ilmu sosial lain, apakah itu dari studi-studi budaya, bahasa, antropologi dan studi-studi komunikasi atau karya-karya yang berkaitan, misalnya dalam mencari informasi dan menginterpretasikan hasil informasi lewat sejarah lisan, misalnya mengenai identitas, memori dan narasi perorangan.

    Perkembangan historiografi sejarah lisan di proyek sejarah lisan baru dikembangkan di bawah koordinasi Arsip Nasional pada tahun 1970an. Mengikuti perkembangannya di Amerika, fokus perhatian sejarah lisan ini lebih pada kelompok elit: bekas menteri, para pemimpin partai politik, militer, dan para pemimpin PRRI/Permesta. Selain itu, periode pendudukan Jepang pada tahun 1980an, juga menjadi fokus perhatian. Perkembangan sejarah lisan akhir-akhir ini agaknya cukup menggembirakan, karena selain Arsip Nasional, ada berbagai organisasi sosial atau institusi yang mencoba mengembangkan sejarah lisan untuk berbagai tema. Dilihat dari perkembangan historiografi Indonesia dan sekaligus historiografi sejarah lisan Indonesia, nampak ada pergeseran tema dari yang berfokus pada elit ke kelompok sosial kelas bawah. Sudah tidak diragukan lagi bahwa keberagaman tema dan fokus perhatian pada berbagai kelompok sosial tidak saja menandai arah baru dalam perkembangan historiografi Indonesia, juga menandai perubahan radikal dalam penggunaan sumber-sumber lisan.
     
  • Penggunaan Sejarah Lisan: Antara Objek dan Konteks
    Sejarah lisan adalah salah satu sumber informasi bagi para sejarawan atau bagi para ilmuwan sosial lain yang menggunakan pendekatan sejarah untuk objek studinya. Pada saat ini sumber-sumber informasi lain selain sumber-sumber tertulis semakin beragam, seperti foto, film, peninggalan budaya materi (material culture), dapat dijadikan sumber informasi yang dapat melengkapi gambaran masa lalu lebih komprehensif. Foto dan film juga akan membantu menggali sejarah lisan lebih kaya, karena dapat membangkitkan memori individu, keluarga maupun komunitas dan mungkin sekali memori mengenai tempat, peristiwa dan sebagainya.

    Sebagaimana dijelaskan dalam uraian terdahulu, bahwa perkembangan historiografi sejarah lisan pada skala internasional dan nasional telah memungkinkan tidak lagi semata-mata bergantung pada sumber-sumber tertulis. Dapat mengungkapkan pengalaman orang-orang yang disembunyikan dari sejarah. Pengalaman-pengalaman pribadi baik secara individu maupun keluarga dan komunitas mereka. Perkembangan historiografi Indonesia dan sekaligus perkembangan sejarah lisannya memang sudah mulai menyentuh pengalaman orang-orang yang tanpa sejarah ini. Yang penting juga adalah bahwa ada hubungan yang interaktif, tatap muka antara pewawancara dengan yang diwawancarai, suatu kesempatan yang jarang dan susah dicari.

    Kemajuan-kemajuan teknologi telah memungkinkan orang merekam sejarah dari komunitas, dan kelompok sosial manapun, baik kelompok elit maupun kalangan kelas bawah. Oleh karena sumber-sumber sejarah kelompok sosial kelas bawah ini tersembunyi dari sejarah ataupun kurang memiliki sumber-sumber tertulis, maka dengan sejarah lisan, pengalaman-pengalaman mereka dapat direkam. Karena itu, dalam beberapa kasus sejarah lisan bisa menjadi tulang punggung dari apa yang kita miliki sebagai bahan sumber. Dari pengalaman penulis meneliti sejarah sektor informal, tukang becak sekarang ini memperlihatkan bahwa sejarah lisan digunakan sebagai bahan pokok untuk menulis sejarah becak. Hal yang sama misalnya juga terjadi dengan kasus sejarah pembantu rumahtangga di Indonesia

    Sejumlah pertanyaan bisa diajukan dan bisa mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih detil mengenai pengalaman, sikap dan pandangan dalam sebuah peristiwa. Sebuah gambaran yang lebih rinci mengenai kelompok kelas bawah ini akan bisa diperoleh. Interaksi tatap muka semacam itu betul-betul tidak ada dari sumber-sumber tertulis. Karena itu, interaksi itu menawarkan kemungkinan untuk sejarawan lebih selektif dalam pengumpulan sumber-sumber informasi.

    Sekurang-kurangnya ada dua hal yang nampak perlu dipertimbangkan sejarawan yang menggunakan sumber-sumber lisan ini. Pertama adalah sikap kritis, seperti halnya juga menghadapi sumber-sumber tertulis. Dalam beberapa kasus penggunaan sejarah lisan, nampak penyerapan informasi tanpa hati-hati dari sumber-sumber lisan. Sejarawan semestinya harus kritis menggunakan sumber-sumber lisan, mencek kebenaran sumber-sumber informasi yang diterima dengan sumber-sumber lain, termasuk dengan informan lain. Selanjutnyam sejarawan juga tahu latar belakang pengkisah, fungsinya, atau tempatnya dalam sebuah famili, keluarga, komunitas, etnisitas, agama, laki-laki-perempuan, status di tempat kerja, organisasi sosial, organisasi politik, pemerintahan dan seterusnya, karena reproduksi memori yang disampaikan tidak bisa lepas dari latarbelakangnya.

    Memori yang dituangkan ke dalam rekaman adalah sebuah proses yang kompleks dan selektif. Memori bukanlah sebuah proses tindakan mental yang sederhana dan bahkan kata-kata yang digunakan untuk menguraikan tindakan (mengakui, mengingat, dan mengucapkan kembali dan menjelaskan) memperlihatkan bahwa ‘memori’ dapat memasukkan apa saja mulai dari yang bersifat pribadi (private life) sampai ke yang bersifat publik. Memori yang selektif bisa dilihat dari apa yang dikatakan dan yang tidak dikatakan, apa yang senang diungkapkan dan apa yang tidak senang diungkapkan atau disembunyikan, apa yang bisa diungkapkan hari ini, dan apa yang bisa diungkapkan pada hari lain. Penyeleksian dalam pengungkapan memori masa lalu itu juga memiliki politiknya sendiri. Kondisi semacam ini akan terlihat selama wawancara berlangsung. Sejarawan semestinya dapat membaca dengan kritis tentang hal ini. Biasanya tanda-tanda pengungkapan senang dan tidak senang misalnya dibantu dengan bahasa tubuh, dengan berbagai gerakan atau mimik dan tanda-tanda lain yang memperlihatkan sikap yang diwawancarai. Karena itu rekaman video yang berlangsung selama wawancara amat membantu menangkap suasana itu. Atau cara lain adalah dengan memberikan laporan keadaan respon yang diwawancarai baik pada waktu kontak-kontak pertama ataupun juga selama wawancara berlangsung, suasana rumah, keluarga dan lain-lain. Informasi rinci yang diperoleh sejarawan bisa jadi merupakan kelemahan dan kekuatan. Kekuatannya memang terletak pada informasi yang detil. Kelemahannya adalah bahwa sejarawan akan terpuruk pada pengalaman individu yang detil, akan tetapi lupa pada konteks. Kondisi ini diibaratkan seperti mengetahui dengan rinci pohon-pohon dengan ranting, daun, bunga, buah dan seterusnya, akan tetapi lupa di hutan mana pohon itu tumbuh, berkembang dan mati. Agar tidak hilang di hutan belantara, maka jenis hutan harus diketahui. Interelasi dan interkoneksi antara objek, orang yang diwawancarai dengan konteks sosial-politik dan ekonomi yang lebih luas, baik dalam skop keluarga, tetangga, komunitas, lokal dan nasional, sepatutnya diperhatikan. Dengan begitu makna penulisan sejarah dari sumber-sumber lisan bisa dipetik.
     
  • Perluasan Penggunaan Sumber Visual dalam Penulisan Historiografi Indonesia
    Keberadaan sumber visual dalam Penulisan Historiografi Indonesia sebenarnya bukanlah merupakan hal yang baru. Gilbert J. Garraghan (1957), secara implisit mengatakan bahwa di samping oral sources dan written sources, klasifikasi lain yang merupakan sumber sejarah resmi adalah picture (pictorial) atau figure (figured). Menurut Garaghan, transmisi data sejarah melalui gambar dapat terjadi melalu beberapa cara, seperti, monumental transmission, ornamental transmission, graphic transmission, photographic transmission, dan phonographic transmission. Transmisi melalui monumen tampak antara lain dalam bentuk piramid, bangunan candi, bangunan gereja, bangunan-bangunan bersejarah serta patung dan lukisan. Transmisi melalui ornamen tampak antara lain dalam detail-detail dekoratif yang terdapat dalam karya-karya patung atau lukisan bernilai sejarah yang terdapat dalam bangunan-bangunan. Demikian juga gambar-gambar bersejarah yang terdapat di dalam kertas kulit (parchment, perkamen), dan buku-buku. Transmisi melalui grafis tampak dalam pembuatan gambar-gambar dalam peta, sketsa topografi, perencanaan kota, tabel-tabel statistik, peralatan antropometrik dalam catatan kriminal, seperti sidik jari. Transmisi melalui fotografi, tampak dalam berbagai proses fotografi, seperti photostat (fotostat, fotokopi), mikrofilm, microprint, dan gambar bergerak. Transmissi melalui ponograf tampak dalam berbagai rekaman suara manusia atau bentuk-bentuk suara lainnya yang terdapat dalam phonograf.

    Klasifikasi sumber sejarah versi Garaghan sebagaimana diuraikan di atas secara eksplisit menempatkan sumber visual (picture atau figure) sebagai salah satu sumber penting dalam sejarah. Kedudukannya adalah sama penting dengan sumber tertulis maupun sumber lisan. Kedudukan penting sumber visual sebagai salah satu sumber resmi sejarah, dalam prakteknya di lapangan dapat dikatakan kurang banyak dilirik oleh para sejarawan atau para penulis sejarah. Mayoritas sejarawan tampaknya lebih tertarik untuk hanya menggunakan sumber tertulis sebagai media rekonstruksi sejarah. Kondisi ini memang didukung oleh sangat berlimpahnya sumber-sumber tertulis sehingga memudahkan sejarawan untuk bekerja. Merananya nasib sumber visual di tangan para sejarawan tentu bisa diakibatkan oleh berbagai faktor. Di samping kemudahan dalam menggunakan sumber tertulis, faktor lain yang juga telah menyebabkan terpinggirkannya sumber visual adalah dikarenakan masih tumbuhnya keyakinan yang kuat di kalangan sejarawan ataupun penulis sejarah bahwa sumber tertulis merupakan sumber sejarah yang dianggap paling kredibel.

    Di luar keunggulan klasik yang dimiliki oleh sumber tertulis, minimnya penggunaan sumber visual sebagai media rekonstruksi sejarah bisa jadi pula diakibatkan oleh adanya kesulitan para sejarawan dalam membaca dan terlebih memaknai sumber-sumber visual dalam upaya melakukan rekonstruksi sejarah. Dengan kondisi tersebut, jelaslah perlu ada upaya-upaya yang signifikan dan optimal dari para sejarawan untuk memanfaatkan sumber visual sebagai media rekonstruksi sejarah. Terlebih, realitas menunjukkan bahwa sejarah Indonesia pun sebenarnya kaya akan sumber-sumber visual.


Sumber :
Kartodirdjo, Sartono. 1982. “Penggunaan Bahan Dokumenter”, dalam Sartono Kartodirjo Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: suatu alternatif. Jakarta: Gramedia
Kartodirjo, Sartono.1982.Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia suatu Alternatif.Jakarta: Gramedia.
Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Budaya.
Mohammad Ali, "Beberapa MAsalah tentang Historigrafi Indonesia", dalam buku, Soedjatmoko Dkk (ed), Historiografi Indonesia
Sebuah Pengantar, Jakarta : Gramedia, 1995.
Sachari, Agus.2007.Budaya Visual Indonesia. Bandung: Erlangga.

0 Response to "Perluasan Sumber - Sumber Sejarah dalam Penulisan Historiografi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel