Kekuasaan VOC di Indonesia dan Perjuangan Daerah Menghadapi Penetrasi VOC

KEGIATAN DAN KEKUASAAN VOC di INDONESIA
Kekuasaan VOC di Indonesia memang merupakan kekuasaan terkejam, yang sebelumnya Kekuasaan Spayol di Indonesia. Atas prakarsa pembesar Belanda yang bernama Olden Barneveldt, semua persekutuan dagang Belanda yang ada di Hindia (Indonesia) disatukan menjadi sebuah persekutuan besar. Persekutuan dagang besar di Hindia tersebut disebut Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). VOC berdiri secara resmi padatahun 1602 dan membuka kantor pertama di Banten (1602) yang dikepalai oleh Francois Wittert.

Tujuan dibentuknya VOC, antara lain sebagai berikut:
  1. Menghindari persaingan yang tidak sehat sesama pedagang Belandasehingga keuntungan dapat diperoleh secara maksimal. 
  2. Memperkuat posisi Belanda dalam menghadapi persaingan dengan bangsaEropa ataupun bangsa Asia lainnya. 
  3. Membantu pemerintah Belanda yang sedang berjuang menghadapi Spanyol yang ingin menguasai wilayah Belanda. 
  4. Mendapatkan monopoli perdaganganbaik impor maupun ekspor.

Pada tahap permulaan, VOC belum mempunyai kelebihan apapun dibandingkan dengan persekutuan dagang bangsa lain, baik dari segi modal,kapal, personalia, maupun persenjataannya. Pada saat itu VOC hanya memiliki satu kelebihan, yaitu memiliki tata kerja yang teratur, rapi, dan terkontrol dalambentuk organisasi yang kuat. Kelebihan itu sangat menentukan keberhasilansetiap gerak langkah VOC. Belanda mengakui VOC terus bergerak maju.Tindakannya makin mantap dan pengaruhnya makin besar sehingga setapak demi setapak dapat mendesak bangsa-bangsa Eropa lainnya ke luar Indonesia.VOC juga berhasil mematahkan rantai perdagangan bangsa Indonesia yangsebenarnya besar, tetapi tanpa organisasi.

Pemerintah Belanda memberi hak monopoli dagang dan beberapakekuasaan kenegaraan pada VOC untuk memperkuat keberadaannya. Bentuk hak monopoli dan kekuasaan yang dimiliki oleh VOC, antara lain sebagai berikut.

Hak monopoli dan kekuasaan yang dimiliki oleh VOC :
  1. VOC berkuasa untuk memerintah di daerah-daerah yang diduduki. 
  2. VOC berkuasa untuk melakukan peperangan, membuat perdamaian, sertamengadakan perjanjian dengan raja-raja di wilayah kekuasaannya. 
  3. VOC berkuasa untuk mencetak dan mengedarkan uang sendiri. 
  4. VOC mempunyai hak monopoli perdagangan. 5.VOC berhak memiliki tentara.

Hak istimewa yang diberikan pemerintah Belanda menjadikan VOC sebagaipemerintah penjajah di Indonesia. Pada tahun 1605, VOC berhasil merampasdaerah pertamanya di Indonesia, yaitu benteng milik Portugis di Ambon. Untuk memperlancar kegiatan monopolinya, VOC mengangkat seorang pemimpin dengan pangkat gubernur jenderal. Gubernur Jenderal VOC yang pertama adalah Pieter Both (1610–1614). Gubernur Jenderal VOC berada di pangkalan dagangVOC yang paling kuat, yaitu di Ambon . Namun, letak Ambon setelah beberapa waktu dirasakan kurang strategis sehingga VOC berkeinginan menguasai daerahlain untuk dijadikan pangkalan dagangnya paling kuat. Perhatian VOC ditujukanke Jayakarta yang masuk wilayah Kerajaan Banten.

VOC di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen padatahun 1619 berhasil merebut Jayakarta. Orang-orang Banten yang berada di Jayakarta diusir. Kota Jayakarta dibakar pada tanggal 30 Mei 1619. J.P. Coenmengganti nama Jayakarta menjadi Batavia sesuai dengan nama nenek moyangbangsa Belanda, bangsa Bataf. Batavia menjadi Markas Besar VOC.

Usaha VOC untuk menguasai perdagangan rempah-rempah makin mudah.VOC terus mengadakan perluasan wilayah kekuasaan. Pusat-pusat perdaganganpenting di Nusantara berhasil dikuasai, antara lain Malaka (1641), Padang(1662), dan Makassar (1667). VOC juga menguasai daerah-daerah pedalaman,misalnya Mataram dan Banten yang banyak menghasilkan beras dan lada.

Peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh VOC dalam pelaksanaanmonopoli, antara lain sebagai berikut :
  1. VOC menentukan luas areal penanaman rempah-rempah. 
  2. VOC menentukan jumlah tanaman rempah-rempah. 
  3. VOC melarang rakyat Maluku menjual rempah-rempahnya selainkepadanya. 
  4. VOC mengadakan ekstirpasi , yaitu penebangan tanaman yang melebihi produksi.

VOC melakukan ekstirpasi karena penduduk berusaha memperluas areal tanaman rempah-rempah. Akibatnya, terjadi hasil yang berlebihan (kelebihan produksi) sehingga harga rempah-rempah merosot. Untuk mencegah terjadinya berbagai pelanggaran terhadap peraturan dalammonopoli, VOC mengadakan patroli yang disebut pelayaran Hongi. Patroli itu menggunakan perahu tradisional yang disebut kora-kora. Apabila terjadi pelanggaran terhadap peraturan monopoli, dapat segera ditindak oleh petugas patroli Hongi.

Patroli Hongi juga telah melakukan penebangan tanaman cengkihsecara besar-besaran di Maluku. Penebangan tanaman cengkih secara besar-besaran oleh Belanda melaluipatroli Hongi disebut Ekstirpasi, tujuannya untuk menjaga agar harga tanaman tetap stabil di pasaran dunia. Akibat peraturan dalam monopoli tersebut, rakyat Maluku menjadi tertekandan tertindas. Hal itu tentu saja menimbulkan ketidakpuasan di kalangan rakyatMaluku terhadap VOC. Rakyat Maluku menaruh dendam terhadap VOCs ehingga sewaktu-waktu dapat berubah menjadi pemberontakan. Rakyat Maluku tidak takut terhadap ancaman hukuman dari VOC.

Dalam menumpas pemberontakan, VOC tidak segan-segan melakukan pembunuhan massal terhadap rakyat Maluku. Misalnya, padatahun 1621 VOC di bawah pimpinan J.P. Coen melakukan pembunuhan massal terhadap rakyat Maluku. Di Banda hampir 1.000 orang mati dibunuh VOC.Sistem monopoli dan pelaksanaan pelayaran Hongi yang dila-kukan VOC meninggalkan penga-laman pahit dalam hati rakyat Maluku sehingga sulit dilupakan.

CARA VOC MELAKUKAN MONOPOLI PERDAGANGAN DI NUSANTARA
  1. Melakukan pelayaran Hongi (Hongi Tockten) untuk memberantas penyelundupan. Tindakan yang dilakukan VOC adalah merampas setiap kapal penduduk yang menjual langsung rempah-rempahkepada pedagang asing seperti Inggris, Perancis, dan Denmark. Hal ini banayk dijumpai di pelabuhan bebas Makassar. 
  2. Melakukan Ekstirpasi, yaitu penebangan tanaman milik rakyat. Tujuannya adalah mempertahankan agar harga rempah-rempah tidak merosot bila hasil panen berlebihan. 
  3. Perjanjian dengan raja-raja setempat, terutama yang kalah perang wajib menyerahkan hasil bumi yang diperlukan VOC dengan harga yang diteapkan VOC. Penyerahan wajib disebut Verplichte Leverantie. 
  4. Rakyat wajib menyerahkan hasil bumi sebagai pajak, yang disebut dengan istilah Contingenten.Namun seiring dengan perkembangan perubahan dan kebutuhan di Eropa dari rempah-rempah ke tanaman industri yaitu kopi, gula, dan teh maka pada abad ke-18 VOC mengalihkan perhatiannya untuk menanam ke tiga jenis barang komoditi tersebut. 
  5. VOC mengangkat seorang pemimpin dengan pangkat gubernur jenderal untuk memperlancar gerakannya. Gubernur jenderal pertama adalah Pieter Both, yang berkedudukan di Ambon. 
  6. Belanda melaksanakan politik memecah belah (devide et empera) dan adu domba antar keluarga dalam satu kerajaan. Akhirnya, satu persatu kerajaan-kerajaan di indonesia jatuh dalam kekuasaan VOC. 
  7. Pelaksaan monopoli di Kepulauan Maluku. Untuk menguasai perdagangan rempah-rempah, VOC melaksanakan monopoli. 
  8. Apabila terjadi pelanggaran terhadap peraturan-peraturan tersebut diatas, akan dijatuhi hukuman. Hukuman untuk para pelanggar berupa pembinasaan tanaman rempah-rempah milik petani yang melanggar peraturan monopoli dan pemiliknya disiksa atau dibunuh.
PERJUANGAN DI BERBAGAI WILAYAH MENGHADAPI KEKUASAAN VOC
 a. Perlawanan rakyat maluku melawan VOC
Pada tahun 1605 Belanda mulai memasuki wilayah Maluku dan berhasil merebut benteng Portugis di Ambon. Praktik monopoli dengan sistem pelayaran hongi menimbulkan kesengsaran rakyat. Pada tahun 1635 muncul perlawanan rakyat Maluku terhadap VOC di bawah pimpinan Kakiali, Kapten Hitu. Perlawanan segera meluas ke berbagai daerah. Oleh karena kedudukan VOC terancam, maka Gubernur Jederal Van Diemen dari Batavia dua kali datang ke Maluku (1637 dan 1638) untuk menegakkan kekuasaan Kompeni. Untuk mematahkan perlawanan rakyat Maluku, Kompeni menjanjikan akan memberikan hadiah besar kepada siapa saja yang dapat membunuh Kakiali. Akhirnya seorang pengkhianat berhasil membunuh Kakiali.

Dengan gugurnya Kakiali, untuk sementara Belanda berhasil mematahkan perlawanan rakyat Maluku, sebab setelah itu muncul lagi perlawanan sengit dari orang-orang Hitu di bawah pimpinan Telukabesi. Perlawanan ini baru dapat dipadamkan pada tahun 1646. Pada tahun 1650 muncul perlawanan di Ambon yang dipimpin oleh Saidi. Perlawanan meluas ke daerah lain, seperti Seram, Maluku, dan Saparua. Pihak Belanda agak terdesak, kemudian minta bantuan ke Batavia. Pada bulan Juli 1655 bala bantuan datang di bawah pimpinan Vlaming van Oasthoom dan terjadilah pertempuran sengit di Howamohel. Pasukan rakyat terdesak, Saidi tertangkap dan dihukum mati, maka patahlah perlawanan rakyat Maluku.Sampai akhir abad ke-17 tidak ada lagi perlawanan menentang VOC. Pada akhir abad ke-18, muncul lagi perlawanan rakyat Maluku di bawah pimpinan Sultan Jamaluddin, namun segera dapat ditangkap dan diasingkan ke Sailan (Sri Langka). Menjelang akhir abad ke-18 (1797) muncullah perlawanan besar rakyat Maluku di bawah pimpinan Sultan Nuku dari Tidore. Sultan Nuku berhasil merebut kembali Tidore dari tangan VOC. Akan tetapi setelah Sultan Nuku meninggal (1805), VOC dapat menguasai kembali wilayah Tidore.

Perlawanan Pattimura (1817). Perlawanan Pattimura terjadi di Saparua, yaitu sebuah kota kecil di dekat pulau Ambon. Sebab-sebab terjadinya perlawanan terhadap Belanda adalah :
  1. Rakyat Maluku menolak kehadiran Belanda karena pengalaman mereka yang menderita dibawah VOC 
  2. Pemerintah Belanda menindas rakyat Maluku dengan diberlakukannya kembali penyerahan wajib dan kerja wajib 
  3. Dikuasainya benteng Duursteide oleh pasukan Belanda

Akibat penderitaan yang panjang rakyat menetang Belanda dibawah pimpinan Thomas Matulesi atau Pattimura. Tanggal 15 Mei 1817 rakyat Maluku mulai bergerak dengan membakar perahu-perahu milik Belanda di pelabuhan Porto. Selanjutnya rakyat menyerang penjara Duurstede. Residen Van den Berg tewas tertembak dan benteng berhasil dikuasai oleh rakyat Maluku.Pada bulan Oktober 1817 pasukan Belanda dikerahkan secara besar-besaran, Belanda berhasil menangkap Pattimura dan kawan-kawan dan pada tanggal 16 Nopember 1817 Pattimura dijatuhi hukuman mati ditiang gantungan.

b. Mataram mengahadapi VOC
Sultan Agung (1613-1645) adalah raja terbesar Mataram yang bercita-cita:
  • mempersatukan seluruh Jawa di bawah Mataram, dan 
  • mengusir Kompeni (VOC) dari Pulau Jawa. Untuk merealisir cita-citanya, ia bermaksud membendung usaha-usaha Kompeni menjalankan penetrasi politik dan monopoli perdagangan.

Pada tanggal 18 Agustus 1618, kantor dagang VOC di Jepara diserbu oleh Mataram. Serbuan ini merupakan reaksi pertama yang dilakukan oleh Mataram terhadap VOC. Pihak VOC kemudian melakukan balasan dengan menghantam pertahanan Mataram yang ada di Jepara. Sejak itu, sering terjadi perlawanan antara keduanya, bahkan Sultan Agung berketetapan untuk mengusir Kompeni dari Batavia.

Serangan besar-besaran terhadap Batavia, dilancarkan dua kali. Serangan pertama, pada bulan Agustus 1628 dan dilakukan dalam dua gelombang. Gelombang I di bawah pimpinan Baurekso dan Dipati Ukur, sedangkan gelombang II di bawah pimpinan Suro Agul-Agul, Manduroredjo, dan Uposonto. Batavia dikepung dari darat dan laut selama tiga bulan, tetapi tidak menyerah. Bahkan sebaliknya, tentara Mataram akhirnya terpukul mundur.

Serangan kedua dilancarkan pada bulan September 1629 di bawah pimpinan Dipati Purbaya dan Tumenggung Singaranu. Akan tetapi serangan yang kedua ini pun juga mengalami kegagalan. Kegagalan serangan-serangan tersebut disebabkan:
  1. Kalah persenjataan. 
  2. Kekurangan persediaan makanan, karena lumbung-lumbung persediaan makanan yang dipersiapkan di Tegal, Cirebon, dan Kerawang telah dimusnahkan oleh Kompeni. 
  3. Jarak Mataram - Batavia terlalu jauh. 
  4. Datanglah musim penghujan, sehingga taktik Sultan Agung untuk membendung sungai Ciliwung gagal. 
  5. Terjangkitnya wabah penyakit yang menyerang prajurit Matara

c. Perlawan Trunojoyo (1674-1680)
Trunojoyo, seorang keturunan bangsawan dari Madura tidak senang terhadap Amangkurat I, karena pemerintahannya yang sewenang-wenang dan menjalin hubungan dengan Kompeni. Perlawanan Trunojoyo di mulai pada tahun 1674, dengan menyerang Gresik. Dengan berpusat di Demung (dekat Panarukan), Trunojoyo melakukan penyerangan dan dalam waktu singkat telah berhasil menguasai beberapa daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah bahkan sampai pusat Mataram di Plered (Yogyakarta). Dalam perlawanan ini, Trunojoyo dibantu oleh Raden Kajoran, Macan Wulung, Karaeng Bontomarannu, dan Karaeng Galesung.

Pada tanggal 2 Juli 1677, pasukan Trunojoyo telah berhasil menduduki Plered, ibukota Mataram. Amangkurat I yang sering sakit bersama putra mahkota, Adipati Anom melarikan diri untuk minta bantuan kepada Kompeni di Batavia. Dalam perjalanan, Amangkurat I meninggal di Tegal Arum (selatan Tegal), sehingga dikenal dengan sebutan Sultan Tegal Arum. Adipati Anom kemudian menaiki takhta dengan gelar Amangkurat II. Untuk menghadapi Trunojoyo, Amangkurat II minta bantuan Kompeni, akan tetapi tidak ke Batavia namun ke Jepara.

Pimpinan Kompeni (VOC) Speelman menerima dengan baik Amangkurat II dan bersedia membantu dengan suatu perjanjian (1678) yang isinya:
  1. VOC mengakui Amangkurat II sebagai raja Mataram. 
  2. VOC mendapatkan monopoli dagang di Mataram. 
  3. Seluruh biaya perang harus diganti oleh Amangkurat II 
  4. Sebelum hutangnya lunas, pantai utara Jawa digadaikan kepada VOC. 
  5. Mataram harus menyerahkan daerah Kerawang, Priangan, Semarang dan sekitarnya kepada VOC.

Setelah perjanjian ini ditandatangani penyerangan di mulai. Pada waktu itu Trunojoyo telah berhasil mendirikan istana di Kediri dengan gelar Prabu Maduretno. Tentara VOC di bawah pimpinan Anthonie Hurdt, yang dibantu oleh tentara Aru Palaka dari Makasar, Kapten Jonker dari Ambon beserta tentara Mataram menyerang Kediri. Dengan mati-matian tentara Trunojoyo menghadapi pasukan gabungan Mataram-VOC, tetapi akhirnya terpukul mundur. Pasukan Trunojoyo terus terdesak, masuk pegunungan dan menjalankan perang gerilya. Demi keselamatan sebagian pengikutnya, pada tanggal 25 Desember 1679 menyerah dan akhirnya gugur ditikam keris oleh Amangkurat II pada tanggal 2 Januari 1680. Dengan gugurnya Trunojoyo, terbukalah jalan bagi VOC untuk meluaskan wilayah dan kekuasaannya di Mataram.

d. Perlawanan Untung Suropati (1868-1706)
Untung, menurut cerita adalah seorang putra bangsawan dari Bali, yang dibawa pegawai VOC ke Batavia. Semula Untung dijadikan tentara VOC di Batavia. Dalam peristiwa Cikalong (1684), merasa harga dirinya direndahkan, maka Untung berbalik melawan VOC. Dengan peristiwa Cikalong tersebut, Untung tidak kembali ke Batavia, namun melanjutkan perlawanan menuju Cirebon. Di Cirebon terjadi perkelahian dengan Suropati dan Untung menang sehingga namanya digabungkan menjadi Untung Suropati. Dari Cirebon Untung terus melanjutkan perjalanan menuju Kartasura, dan disambut baik oleh Amangkurat II yang telah merasakan beratnya perjanjian yang dibuat dengan VOC. Pada tahun 1686, datanglah utusan VOC di Kartasura di bawah pimpinan Kapten Tack dengan maksud:

  1. merundingkan soal hutang Amangkurat II 
  2. menangkap Untung. Amangkurat II menghindari pertemuan ini dan terjadilah pertempuran.

Kapten Tack bersama anak buahnya berhasil dihancurkan oleh Untung, dan Untung kemudian melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur hingga sampai di Pasuruan. Di Pasuruan inilah Untung Suropati berhasil mendirikan istana dan mengangkat dirinya menjadi adipati dengan gelar Adipati Ario Wironegoro, dengan wilayah seluruh Jawa Timur, antara lain Blambangan, Pasuruhan, Probolinggo, Malang, Kediri dan Bangil. Di Bangil,dibangun perbentengangunamenghadapiVOC.

Pada tahun 1703, Amangkurat II wafat, putra mahkota Sunan Mas naik takhta. Raja baru ini benci terhadap Belanda dan condong terhadap perlawanan Untung. Pangeran Puger (adik Amangkurat II) yang ingin menjadi raja, pergi ke Semarang dan minta bantuan kepada VOC agar diakui sebagai raja Mataram. Pada tahun 1704, Pangeran Puger dinobatkan menjadi raja dengan gelar Paku Buwono I. Pada tahun 1705 Paku Buwono I dan VOC menyerang Mataram. Sunan Mas melarikan diri dan bergabung dengan pasukan Untung di Jawa Timur.

Oleh pihak Kompeni di Batavia, dipersiapkan pasukan secara besar-besaran untuk menyerang Pasuruan. Di bawah pimpinan Herman de Wilde, pasukan Kompeni berhasil mendesak perlawanan Untung. Dalam perlawanan di Bangil, Untung Suropati terluka dan akhirnya pada tanggal 2 Oktober 1706 gugur. Jejak perjuangannya diteruskan oleh putra-putra Untung, namun akhirnya berhasil dipatahkan oleh Kompeni. Bahkan Sunan Mas sendiri akhirnya menyerah, kemudian dibawa ke Batavia, dan diasingkan ke Sailan (1708).

e. Makasar menghadapi VOC
Pada abad ke-17 di Sulawesi Selatan telah muncul beberapa kerajaan kecil seperti Gowa, Tello, Sopeng, dan Bone. Di antara kerajaan tersebut yang muncul menjadi kerajaan yang paling kuat ialah Gowa, yang lebih dikenal dengan nama Makasar.

Adapun faktor-faktor yang mendorong perkembangan Makasar, antara lain :
  1. Letak Makasar yang sangat strategis dalam lalu lintas perdagangan Malaka-Batavia-Maluku. 
  2. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511. 
  3. Timbulnya Banjarmasin sebagai daerah penghasil lada, yang hasilnya dikirim ke Makasar

Usaha penetrasi kekuasaan terhadap Makasar oleh VOC dalam rangka melaksanakan monopolinya menyebabkan hubungan Makasar - VOC yang semula baik menjadi retak bahkan akhirnya menjadi perlawanan. Hal ini dikarenakan Makasar selalu menerobos monopoli VOC dan selalu membantu rakyat Maluku melawan Kompeni. Pertempuran besar meletus pada tahun 1666, ketika Makasar di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin (1654-1670). Dalam hal ini VOC berkoalisi dengan Kapten Jonker dari Ambon, Aru Palaka dari Bone, dan di pihak VOC sendiri dipimpin oleh Speelman. Makasar dikepung dari darat dan laut, yang akhirnya pertahanan Makasar berhasil dipatahkan oleh VOC. Para pemimpin yang tidak mau menyerah, seperti Karaeng Galesung dan Karaeng Bontomarannu melarikan diri ke Jawa (membantu perlawanan Trunojoyo). Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667, yang isinya :
  1. Wilayah Makasar terbatas pada Goa, wilayah Bone dikembalikan kepada Aru Palaka. 
  2. Kapal Makasar dilarang berlayar tanpa izin VOC. 
  3. Makasar tertutup untuk semua bangsa, kecuali VOC dengan hak monopolinya. 
  4. Semua benteng harus dihancurkan, kecuali satu benteng Ujung Pandang yang kemudian diganti dengan nama Benteng Roterrdam. 
  5. Makasar harus mengganti kerugian perang sebesar 250.000 ringgit.

Sultan Hasanuddin walaupun telah menandatangani perjanjian tersebut, karena dirasa sangat berat dan sangat menindas; maka perlawanan muncul kembali (1667-1669). Makasar berhasil dihancurkan dan dinyatakan menjadi milik VOC.

f. Perlawanan Banten menghadapi VOC
Dilakukan sejak tahun 1619 oleh Kerajaan Banten saat VOC berusaha hendak merebut bandar pelabuhan Merak, yang membuat orang Banten sangat marah dan menaruh dendam terhadap VOC. Apalagi VOC telah dengan sewenang-wenang merebut Jayakarta yang menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Banten dan berusaha memblokade pelabuhan dengan Kerajaan Banten.

Untuk menghadapi bahaya dan ancaman Kerajaan Mataram, VOC berusaha mendekati Kerajaan Banten. Tetapi Banten sudah terlanjur menaruh dendam terhadap Belanda. Pada Desember 1627 orang-orang Banten merencanakan pembunuhan terhadap J.P. Coen. Tetapi rencana itu bocor dan telah diketahui musuh. Kemudian mereka mengamuk dan membunuh beberapaorangBelanda.

Tahun 1633, ketika VOC bertindak sewenang-wenang terhadap orang-orang Banten yang berlayar dan berdagang di Kepulauan Maluku, maka pecah lagi peperangan antara Banten dan VOC. Keangkuhan orang Belanda ini memicu kemarahan dan sikap anti terhadap sifat kolonialis. VOC bukan saja ingin menguasai perdagangan tetapi juga menerapkan pajak yang tinggi terhadap rakyatBanten. Orang-orang Banten merasa harga diri mereka dilecehkan. Mereka adalah penganut Islam kuat dan selalu memiliki semangat untuk menegakkan keadilan. Rakyat Banten menganggap orang-orang Belanda adalah orang-orang yang akan merusak tatanan kehidupan di tanah Banten.

Hubungan antara Kerajaan Banten dan VOC lebih gawat lagi ketika kerajaan itu diperintah oleh Sultan Abdulfatah. Abdulfatah yang dikenal gelarnya Sultan Ageng Tirtayasa (1650-1682). Hal ini dibuktikan dengan peperangan-peperangan yang dilakukannya melawan VOC atau Kompeni Belanda, baik di darat maupun di laut. Di daerah-daerah perbatasan antara Batavia dan Kerajaan Banten seperti di daerah Angke, 'Pesing dan Tangerang sering terjadi pertempuran-pertempuran yang membawa korban kedua belah pihak. Untuk melawan Banten, VOC membentuk pasukan-pasukan bayaran yang terdiri dari pelbagai suku bangsa seperti: Suku Bugis, Suku Bali, Suku Banda dan lain-Iainnya. Selain itu VOC juga terdiri dari pelbagai suku bangsa Indonesia yang bermukim dan bertempat tinggal di Jakarta, termasuk orangorang Cina, orang-orang Jepang serta keturunan orang-orang Portugis yang sudah menjadi kawula atau pegawai-pegawai VOC. Orang-orang Belanda senfliri yang tidak seberapa jumlahnya, karenanya selalu berada di garis belakang, namun dengan persenjataan lengkap bahkan mempergunakan senjata meriam.

VOC juga mendirikan dan memperkuat perbentengan-perbentengan mereka di perbatasan Kerajaan Banten, seperti di daerah Angke, Pesing dan lain-lainnya, Tahun 1658, dipimpin Raden Senopati Ingalaga dan Haji Wangsaraja menyerang Batavia di daerah Angke dan Tangerang. Kedatangan tentara Banten itu sudah diketahui VOC melalui mata-mata dan kaki tangan mereka.VOC menyiapkan pasukan-pasukannya dan segera menyongsong tentara Banten itu. Dan terjadilah pertempuran seru. Dengan kapalkapalnya dan persenjataan meriam-meriamnya yang besar VOC mengurung serta menutup pelabuhan Banten, yang berakibat terhentinya perdagangan Kerajaan Banten. Dengan cara yang demikian VOC banyak menimbulkan kerugian lawan, karena hidup kerajaan itu sebagian besar bergantung kepada perdagangan. Belanda yang licik berusaha memecah belah dan mengadu domba orang-orang Banten, yang berhasil mengadu domba Sultan Ageng Tirtayasa dan puteranya, Sultan Haji. Akhimya ayah dan anak itu bermusuhan dan berperang. Sultan Ageng Tirtayasa melawan VOC, sedang Sultan Haji berpihak pada VOC.

Pada bulan Pebruari 1682 pecah perang antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji. Tanggal 6 Maret 1682 VOC mengirimkan bantuan di bawah pimpinan Saint Martin. Sultan Ageng Tirtayasa dipukul mundur dan bertahan di Tirtayasa. Januari 1683 Sultan Ageng Tirtayasa, Pangeran Purbaya serta sejumlah pasukan Banten berada di Parijan, Tangerang. Mereka tetap melanjutkan perjuangan melawan VOC. Kemudian Sultan Haji mengirim surat kepada ayahnya agar datang ke Istana, yang curiga memenuhi undangan puteranya.

Tanggal 14 Maret 1683 Sultan Ageng tiba di Istana dan diterima dengan baik, tetapi kemudian ditangkap dan dibawa ke Batavia. Tahun 1695 Sultan Ageng Tirtayasa wafat. Setelah Sultan Ageng wafat, sisa-sisa tentara Banten tetap mengadakan perlawanan. Setelah Kesultanan Banten dihapus oleh Belanda, perjuangan melawan penjajah dilanjutkan oleh rakyat Banten yang dipimpin oleh ulama dengan menggelorakan semangat perang sabil. Keadaan ini berlangsung sampai Negara Republik Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya. Hal ini terlihat di berbagai pemberontakan yang dipimpin oleh kiai dan didukung oleh rakyat, antara lain peristiwa "Geger Cilegon" pada tahun 1886 di bawah pimpinan KH Wasyid (w. 28 Juli 1888) dan "Pemberontakan Petani Banten" pada tahun 1888.
Lots of people happen to be approached about using life insurance as a good investment tool. Can you think that life insurance is definitely an asset or perhaps a liability? I will be able to discuss life insurance which I believe is among the best methods to guard your loved ones. Can you buy term insurance or permanent insurance is that the main question that individuals should consider? Some people choose term insurance since it is the cheapest and provides the foremost coverage for any stated time period for example 5, 10, 15, 20 or 30 years. Individuals are living longer so term insurance might not continually be the very best investment for everybody. If somebody selects the 30 year term option they‘ve the longest period of coverage however that wouldn‘t be the very best for somebody with their 20’s especially if a 25 year old selects the 30 year term policy then at age 55 the notion of would end. When the one who is 55 years of age and remains in great health but nonetheless needs life insurance the price of insurance for any 55 year old could get extremely expensive. Can you buy term and invest the difference? If you‘re a disciplined investor this could work with you but can it be the simplest way to pass property within your heirs tax free? If somebody dies throughout the 30 year term period probably the beneficiaries would get the head amount tax free. In case your investments apart from life insurance are passed to beneficiaries, in many cases, the investments won‘t pass tax liberated to the beneficiaries. Term insurance is taken into account temporary insurance and can also be beneficial when somebody is starting out life. Many term policies possess a conversion to some permanent policy when the insured feels the need inside the near future, Subsequent kinds of policy is whole life insurance. Like the policy states it is designed for your whole life usually until age 100. This sort of policy has been phased from many life insurance companies. The entire life insurance policy is known as permanent life insurance because so long as the premiums are paid the insured may have life insurance until age 100. These policies are the very best priced life insurance policies but there is a guaranteed cash values. When the entire life policy accumulates as time passes it builds cash value that may be borrowed from the owner. The entire life policy could have substantial cash value following a period of 15 to twenty years and lots of investors have used notice of the. Following a time period, (20 years usually ), the life whole insurance policy could become paid up which suggests you now have insurance and please don‘t need to pay anymore and also the cash value continues to construct. This can be a unique section of the whole life policy that other kinds of insurance can‘t be designed to perform. Life insurance shouldn‘t be sold due to the cash value accumulation but in periods of extreme monetary needs you need not borrow given by a third party because you are able to borrow from your daily life insurance policy just in case in an emergency. Inside the late 80’s and 90’s insurance companies sold products called universal life insurance policies which were supposed to supply life insurance for the whole life. The the truth is that these kinds of insurance policies were poorly designed and lots of lapsed because as rates of interest lowered the policies did not perform well and clients were forced to transmit additional premiums as well as policy lapsed. The universal life policies were a hybrid of term insurance and whole life insurance policies. Some of these policies were associated with the stock market and were called variable universal life insurance policies. My thoughts are variable policies should merely be purchased by investors that have a high-risk tolerance. Once the stock market goes through policy owner can lose big and become forced to transmit in additional premiums to cover the losses or your policy would lapse or terminate. The planning from the universal life policy has had a significant change for the greater inside the current years. Universal life policies are permanent policy which range in ages up to age 120. Many life insurance providers now sell mainly term and universal life policies. Universal life policies now possess a target premium with a guarantee so long as the premiums are paid the policy won‘t lapse. The most recent sort of universal life insurance is that the indexed universal life policy that has performance associated with the S&P Index, Russell Index and also the Dow Jones. Inside a down market you always do not have gain however you do not have losses towards the policy either. When the marketplace is up you‘ll have a gain though it‘s limited. When the index market takes a 30% loss then you‘ve what it is that we call the ground and that is 0 which suggests you do not have loss but there‘s no gain. Some insurers will still give around 3% gain added for you policy even inside a down market. When the market goes up 30% then you are able to share inside the gain but you‘re capped so you‘ll only get 6% from the gain and this‘ll depend upon the cap rate and also the participation rate. The cap rate helps the insurer because they‘re going for a risk that in case the marketplace goes through insured won‘t suffer and when the market goes in the insured can share inside a percentage from the gains. Indexed universal life policies even have cash values which may be borrowed. The simplest way to look into the difference in cash values is to possess your insurance agent show you illustrations so that you could see what fits you investment profile. The index universal life policy includes a design and that is beneficial towards the consumer and also the insurer and may be a viable tool with your total investments. credit cards with cash back credit card reader credit card instant approval online apply credit card bad credit credit cards credit card selection online visa card pay with credit card credit card charges visa or mastercard credit card machine apply a credit card small business credit cards prepaid debit cards visa debit card mbna credit card credit card terminal card credit application credit card generator credit card balance credit card numbers credit card transfer credit card interest rates credit card interest gold card credit card online best rate credit cards credit card low interest visa card online online credit card how to aplly a credit card 0 interest credit cards debit card

0 Response to "Kekuasaan VOC di Indonesia dan Perjuangan Daerah Menghadapi Penetrasi VOC"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel