Ancaman Bencana Letusan Gunung Api di Indonesia



A.    Pengertian Letusan Gunung Api
Letusan gunung api adalah merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah “erupsi”. Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona kegempaan aktif sebab berhubungan dengan batas lempeng. Pada batas lempeng inilah terjadi perubahan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material sekitarnya yang merupakan cairan pijar (magma). Magma akan mengintrusi batuan atau tanah di sekitarnya melalui rekahan- rekahan mendekati permukaan bumi.
Setiap gunung api memiliki karakteristik tersendiri jika ditinjau dari jenis muntahan atau produk yang dihasilkannya. Akan tetapi apapun jenis produk tersebut kegiatan letusan gunung api tetap membawa bencana bagi kehidupan. Bahaya letusan gunung api memiliki resiko merusak dan mematikan.
B.     Persebaran Gunung Api di Indonesia
Jumlah gunung api aktif di Indonesia ada 129 buahh. Jumlah gunung api yang meletus dalam 400 tahun terahkir ada70 buah. Luas daerah yang terancam akan bahaya bencana letusan gunung api di Indonesia ada 16.670 km2, dan jumlah jiwa yang terancam ada 5.000.000 orang.
Penyebaran Gunung Api di Indonesia :
Lokasi
Jumlah Gunung Api
Sumatera
30
Jawa
35
Bali dan Nusa Tenggara
30
Maluku
16
Sulawesi
18
Jumlah
129

Gambar Peta Persebaran Gunung Api di Indonesia


C.    Gunung Merapi, Salah Satu Gunung Api Teraktif di Indonesia
a)        Sejarah meletusnya Gunung Merapi
Gunung Merapi (ketinggian puncak 2.968 m dpl, per 2006) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten SlemanDaerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.
Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Kota Magelang dan Kota Yogyakarta adalah kota besar terdekat, berjarak di bawah 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih terdapat pemukiman sampai ketinggian 1700 m dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak.
Gunung Merapi adalah gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran. Gunung ini terbentuk karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa.
Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat pada tahun 1006 (dugaan), 178618221872, dan 1930. Letusan pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu, berdasarkan pengamatan timbunan debu vulkanik. Ahli geologi Belanda, van Bemmelen, berteori bahwa letusan tersebut menyebabkan pusat Kerajaan Medang (Mataram Kuno) harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan pada tahun 1872 dianggap sebagai letusan terkuat dalam catatan geologi modern dengan skala VEI mencapai 3 sampai 4. Letusan terbaru, 2010, diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati atau sama. Letusan tahun 1930, yang menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, merupakan letusan dengan catatan korban terbesar hingga sekarang.
b)       Kerugian akibat erupsi Gunung Merapi
Pada letusan Gunung Merapi tahun 2010, menimbulkan kerugian tak hanya korban nyawa tetapi juga kerugian materiil. Dusun gadingan di kecamatan cangkringan , sleman hancur lebur. Seluruh rumah penduduk luluh lantak ditelan wedus gembel . Material merapi pun kini menimbun kampung yang dulunya hijau. Dalam laporan data dan analisa Bank Indonesia (BI) yang diterima Tribunnews.com, Senin (5/11/2010), malam disebutkan kerugian itu di antaranya menyebabkan tingkat hunian hotel turun 70 persen, 900 UMKM tutup, ribuan ternak warga mati, serta dampak lainnya kenaikan harga kebutuhan pokok di sekitar Yogyakarta.
Perkiraan kerugian materiil langsung maupun tidak langsung cukup besar, yaitu sebagai berikut, Sektor Pertanian; Sub sektor tanaman holtikultura semusim, perkebunan salak, perikanan, dan peternakan terganggu dengan prakiraan total kerugian mencapai Rp 247 miliar, terutama pada salak pondoh yang rugi Rp 200 miliar. Terdapat sekitar 900 UMKM di Sleman, dari 2.500 UMKM, untuk sementara berhenti total. Kebanyakan usahannya adalah peternakan, holtikultura, dan kerajinan.
Sejumlah 1.548 ekor ternak Mati. Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, menginformasikan pada Kamis (11/11/10), jumlah ternak yang mati akibat erupsi merapi mencapai 1.548 ekor. Dari jumlah itu, sapi perah yang mati mencapai 1.221 ekor, sapi potong 147 ekor, kambing atau domba 180 ekor. Sementara selebihnya, kebanyakan ditampung di Tirtomartani, Kecamatan Kalasan dan Wedomartani, Kec Ngemplak. Di sektor Perikanan diperkirakan cukup besar, yaitu sekitar 1.272 ton. Sektor Transportasi, yakni transportasi udara; penutupan Bandara Adisucipto sampai 15 November 2010 menyebabkan jumlah penerbangan dan jumlah penumpang pesawat turun.
c)        Kondisi Gunung Merapi ( Kondisi Pra Bencana, Saat Bencana dan Pasca Bencana )
Kondisi Gunung Merapi sebelum terjadinya erupsi dapat dijelaskan melalui gambar di bawah ini :

Dari gambar di atas dapat memperlihatkan keadaan gunung merapi yang masih indah untuk di pandang dan memiliki pepohonan yang hijau mengelilingi gunung tersebut serta masih terlihat adanya fasilitas di daerah tersebut.
Secara umum, pada saat erupsi gunung merapi terjadi ada peristiwa yang dapat membahayakan nyawa warga. Bahaya tersebut dapat dibagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah bahaya yang bisa mengakibatkan pengaruh secara langsung atau dikenal dengan bahaya primer. Kedua adalah bahaya yang mengancam secara tidak langsung atau bahaya sekunder.

1)   Bahaya Primer (Saat Bencana terjadi)

Untuk jenis bahaya primer, biasanya terjadi bersamaan dengan proses meletusnya gunung berapi tersebut. Pada saat itu, manusia akan langsung mengetahui dan merasakan efek yang ditimbulkan dari proses meletusnya gunung berapi.Beberapa jenis ancaman yang masuk ke dalam kelompok bahaya primer dari gunung berapi antara lain adalah sebagai berikut.

a.         Lelehan Lava
Lava adalah cairan yang bentuknya pekat serta memiliki suhu sangat tinggi. Lava mampu merusak segala sesuatu yang dilewati atau terkena cairan tersebut.  Kecepatan luncur lava tidaklah sama. Hal ini bergantung pada tingkat kepekatan dan kekentalan lava itu sendiri. Semakin rendah tingkat kekentalannya, maka aliran yang bisa dijangkaunya pun akan semakin jauh.
Pada saat lava meleleh, biasanya berada pada suhu yang sangat tinggi, yaitu sekitar 800 derajat sampai 1200 derajat Celcius. Untuk gunung berapi yang ada di Indonesia, biasanya jenis lava yang dihasilkan memiliki kepekatan sedang. Hal ini cukup membantu karena membuat pergerakan lava menjadi lebih lambat sehingga manusia bisa menyelematkan diri dan jarak luncurannya pun tidak terlalu jauh.
b.        Awan Panas
Dalam bahasa ilmiah, awan panas disebut dengan istilah piroklastik. Aliran awan panas ini terjadi diakibatkan adanya runtuhan tiang asap pada erupsi plinian. Selain itu, disebabkan karena adanya letusan langsung pada satu arah, gugurnya kubah lava atau lidah lava, serta karena adanya aliran di permukaan tanah.
Aliran awan panas ini sangat dipengaruhi oleh gravitasi bumi, sehingga kecenderungannya akan bergerak menuju daerah yang lebih rendah atau juga lembah. Mobilitas awan panas ini sangat terpengaruh adanya proses pelepasan gas dari magma atau lava dari udara yang dipanaskan ketika melaju. Biasanya, kecepatan awan panas ini mampu mencapai 150- 250 kilometer per jam. Jangkauan awan panas sendiri bisa mencapai puluhan kilometer, terutama bila bergerak pada daerah yang rintangannya sedikit.
c.         Hujan Abu
Awan panas yang terjadi karena letusan biasanya menciptakan tiang asap sangat tinggi sehingga pada saat energi dari letusan itu habis, akan menyebabkan abu yang tersebar sesuai arah angin kemudian jatuh ke permukaan bumi. Meskipun hanya berupa abu, tetapi memiliki potensi bahaya yang sangat besar juga, karena abu yang mengendap ini mampu membuat ranting pohon menjadi rontok serta merusak bangunan yang dihinggapinya. Hal ini bisa terjadi bila ketebalan abu vulkanik ini sudah demikian besar sebagaimana yang pernah terjadi pada saat Gunung Merapi meletus. Sebaran abu vulkanik yang ada di udara bisa pula membahayakan lalu lintas penerbangan dan menghalangi sinar matahari.
d.             Lahar Panas
Dalam proses letusan gunung berapi, biasanya akan muncul lahar. Hal ini khususnya terjadi pada gunung yang memiliki danau kawah. Apabila volume air di bagian danau kawah itu cukup besar, akan menimbulkan ancaman bahaya yang besar karena air akan bercampur dengan lahar dan mengalirkan lumpur panas yang bisa membahayakan dan sifatnya mematikan.
e.              Gas Beracun
Gas yang mengandung racun ini akan muncul ketika gunung berappi aktif dan mengeluarkan asap vulkanis. Biasanya, di dalam apa itu terkandung beberapa racun yang mematikan seperti CO, CO2, HCN, H2S, SO2, dan lain sebagainya. Jika zat-zat itu berada dalam kondisi yang berlebihan, bisa membahayakan keselamatan makhluk hidup yang menghirupnya. Untuk bahaya yang bersifat primer ini, biasanya manusia sudah memiliki kewaspadaan tinggi untuk menghindarinya karena pada saat itu, akan disertai dengan aktivitas gunung berapi yang meningkat sehingga mengundang perhatian manusia.
2.) Bahaya Sekunder (Pasca Bencana)
Selain bahaya primer, gunung berapi juga memberikan ancaman bahaya yang sifatnya sekunder. Dalam arti, ancaman bencana ini akan timbul setelah aktivitas letusan gunung berapi tersebut selesai. Ancaman bahaya yang bisa ditimbulkan oleh bencana sekunder ini tidak kalah hebatnya. Bahaya ini sering kali terjadi ketika manusia sudah tidak lagi memberikan kewaspadaan terhadap bahaya gunung berapi tersebut. Bila suatu gunung api meletus akan terjadi penumpukan material dalam berbagai ukuran di puncak dan lereng bagian atas. Pada saat musim hujan tiba, sebagian material tersebut akan terbawa oleh air hujan dan tercipta adonan lumpur turun ke lembah sebagai banjir bebatuan, banjir tersebut disebut lahar. Beberapa jenis bahaya sekunder yang timbul dari gunung berapi ini antara lain adalah sebagai berikut :
a.    Banjir Lahar Dingin
Banjir lahar dingin merupakan jenis banjir akibat adanya tumpukan material pada saat erupsi yang mengendap dan terbawa oleh air hujan. Aliran lahar ini akan menjadi aliran lumpur yang berkarakter pekat dan memiliki kekuatan dahsyat. Aliran lahar dingin ini bisa membawa berbagai jenis material yang dilaluinya, termasuk di antaranya mampu membawa batu dengan diameter lebih dari 5 meter sebagaimana pada saat banjir lahar dingin Gunung Merapi. Aliran lahar dingin ini juga mampu mengubah pola topografi sebuah sungai yang dilewatinya serta merusak bangunan yang ada di jalur aliran lahar dingin tersebut.
b.    Banjir Bandang
Bencana ini timbul diakibatkan adanya longsoran material vulkanik yang sudah mengendap pada bagian lereng gunung berapi. Longsoran ini terjadi bisa karena curah hujan yang tinggi atau diakibatkan karena endapan tersebut sudah jenuh atau padat oleh air. Berbeda dengan aliran banjir lahar dingin, aliran lumpur ini tidak terlalu pekat, tetapi tetap memberikan ancaman cukup tinggi, terutama bagi mereka yang beraktivitas di sekitar sungai. Ya, aliran lumpur dari banjir bandang ini sendiri bisa mencapai kecepatan yang cukup tinggi dan terjadi tanpa adanya tanda-tanda tertentu.
c.    Longsoran Vulkanik
Pada saat gunung berapi meletus, biasanya sebagian besar material vulkanik akan berkumpul pada titik tertentu. Tumpukan material ini bisa dengan mudah mengalami kelongsoran apabila terjadi guncangan yang diakibatkan gempa atau juga karena letusan gunung berapi susulan. Meski termasuk dalam bagian bahaya sekunder gunung berapi, tetpi ancaman ini sering dilupakan dalam pemetaan kawasan rawan bencana. Hal ini karena longsoran material vulkanik ini biasanya tidak memiliki dampak luas dan hanya menyebabkan dampak di sekitar tumpukan material itu berada.
Di bawah ini ada beberapa gambar yang memperlihatkan keadaan pasca gunung merapi meletus :

Pemandangan berupa bangunan yang sudah luluh lantak hanya menyisakan kepingan kayu dan pepohonan yang tak berwujud lagi yang mana sebelum terjadinya erupsi daerah tersebut memiliki pemandangan yang indah,hijau dan ada pemukiman warga yang tinggal di kaki gunung merapi tersebut.

Gambar Banjir lahar dingin. Hal ini dapat terjadi karena curah hujan yang tinggi atau diakibatkan karena endapan tersebut sudah jenuh atau padat oleh air. Banjir lahar dingin ini biasanya membawa bnayak material berupa lumpur,pasir,batu-batu dengan berbagai ukuran dari yang kecil sampai dengan batuan yang sangat besar sehingga dapat membahayakan warga masyarakat yang daerah dilalui banjir lahar dingin tersebut.
D.     Tindakan-tindakan dalam Menghadapi Letusan Gunung Api.
1.    Tindakan Kesiapsiagaan Persiapan dalam Menghadapi Letusan Gunung Api.
Langkah kongkrit dalam kesiapsiagaan terhadap letusan Gunung Api  antara lain sebagai berikut :
1)        Mengenali tanda-tanda bencana, karakter gunung dan ancaman-ancamannya,
2)        Membuat peta ancaman, mengenali daerah ancaman, daerah aman,
3)        Membuat sistem peringatan dini,
4)        Mengembangkan Radio komunitas untuk penyebarluasan informasi status gunung api,
5)        Mencermati dan memahami Peta Kawasan Rawan gunung api yang diterbitkan oleh instansi berwenang,
6)        Membuat perencanaan penanganan bencana Mempersiapkan jalur dan tempat pengungsian yang sudah siap dengan bahan kebutuhan dasar (air, jamban, makanan, pertolongan pertama) jika diperlukan,
7)        Mempersiapkan kebutuhan dasar dan dokumen penting,
8)        Memantau informasi yang diberikan oleh Pos Pengamatan gunung api (dikoordinasi oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Pos pengamatan gunung api biasanya mengkomunikasikan perkembangan status gunung api lewat radio komunikasi.

2.    Tindakan yang Sebaiknya Dilakukan Saat Terjadi Letusan Gunung Api.
Tindakan yang dilakukan ketika telah terjadi letusan adalah :
1)        Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah, aliran sungai kering dan daerah aliran lahar Hindari tempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan,
2)        Masuk ruang lindung darurat bila terjadi awan panas,
3)        Siapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh, seperti baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya,
4)        Melindungi mata dari debu, bila ada gunakan pelindung mata seperti kacamata renang atau apapun yang bisa mencegah masuknya debu ke dalam mata Jangan memakai lensa kontak,
5)        Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung,
6)        Saat turunnya abu gunung usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan.
                                         
3.    Tindakan yang Sebaiknya Dilakukan Setelah Terjadinya Letusan Gunung Api
Setelah terjadi letusan maka yang harus dilakukan adalah :
1)        Jauhi wilayah yang terkena hujan abu,
2)        Bersihkan atap dari timbunan abu karena beratnya bisa merusak atau
meruntuhkan atap bangunan,
3)        Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin motor, rem, persneling dan pengapian.




Upaya memperkecil jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda akibat letusan gunung berapi, tindakan yang perlu dilakukan :
1.
Pemantauan, aktivitas gunung api dipantau selama 24 jam menggunakan alat pencatat gempa (seismograf). Data harian hasil pemantauan dilaporkan ke kantor Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) di Bandung dengan menggunakan radio komunikasi SSB. Petugas pos pengamatan Gunung berapi menyampaikan laporan bulanan ke pemda setempat.
2.
Tanggap Darurat, tindakan yang dilakukan oleh DVMBG ketika terjadi peningkatan aktivitas gunung berapi, antara lain mengevaluasi laporan dan data, membentuk tim Tanggap Darurat, mengirimkan tim ke lokasi, melakukan pemeriksaan secara terpadu.
3.
Pemetaan, Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung berapi dapat menjelaskan jenis dan sifat bahaya gunung berapi, daerah rawan bencana, arah penyelamatan diri, lokasi pengungsian, dan pos penanggulangan bencana.
4.
Penyelidikan gunung berapi menggunakan metoda Geologi, Geofisika, dan Geokimia. Hasil penyelidikan ditampilkan dalam bentuk buku, peta dan dokumen lainya.
5.
Sosialisasi, petugas melakukan sosialisasi kepada Pemerintah Daerah serta masyarakat terutama yang tinggal di sekitar gunung berapi. Bentuk sosialisasi dapat berupa pengiriman informasi kepada Pemda dan penyuluhan langsung kepada masyarakat.
E.     Dampak Letusan Gunung Api
1)      Dampak Negatif
Gunung berapi yang meletus tentu akan membawa material yang berbahaya bagi organisme yang dilaluinya, karena itu kewaspadaan mutlak diperlukan. Berikut ini hal negatif yang bisa terjadi saat gunung meletus :
a.       Tercemarnya udara dengan abu gunung berapi yang mengandung bermacam-macam gas yang mulai dari Sulfur Dioksida atau SO2, gas hidrogen Sulfida (H2S), nitrogen Dioksida (No2)serta beberapa partikel debu yang berpotensi meracuni makhluk hidup sekitarnya,
b.      Dengan meletusnya suatu gunung berapi bisa dipastikan semua aktivitas penduduk di sekitar wilayah tersebut akan lumpuh termasuk kegiatan ekonomi,
c.       Semua titik yang dilalui oleh material berbahaya seperti lahar dan abu vulkanik panas akan merusak pemukiman warga,
d.      Lahar yang panas juga akan membuat hutan di sekitar gunung rusak terbakar dan hal ini berarti ekosistem alamiah hutan terancam,
e.       Material yang dikeluarkan oleh gunung berapi berpotensimenyebabkan sejumlah penyakit. Misalnya saja ISPA,
f.       Desa yang menjadi titik wisata tentu akan mengalami kemandekan dengan adanya letusan gunung berapi.
2)      Dampak Positif
a.       Tanah yang dilalui oleh hasil vulkanis gunung berapi sangat baik bagi pertanian sebab tanah tersebut secara alamiah menjadi lebih subur dan bisa menghasilkan tanaman yang jauh lebih berkualitas. Tentunya bagi penduduk sekitar pegunungan yang mayoritas petani hal ini sangat menguntungkan,
b.      Terdapat mata pencaharian baru bagi rakyatsekitar gunung berapi yang telah meletus yaitu penambangan pasir. Material pasir tentu memiliki nilai ekonomis,
c.       Bebatuan yang disemburkan gunung berapi saat meletus dapat digunakan sebagai bahan bangunan warga sekitar,
d.      Meski ekosistem hutan rusak, namun dalam beberapa waktu akan tumbuh lagi pepohonan yang membentuk hutan baru dengan ekosistem yang baru juga,
e.       Setelah gunung meletus, biasanya terdapat geyser atau sumber mata air panas yang keluar dari dalam bumi dengan berkala atau secara periodik,
f.       Muncul mata air bernama makdani yaitu jenis mata air dengan kandungan mineral yang sangat melimpah,
g.      Pada wilayah vulkanik, potensial terjadi hujan orografis. Hujan ini potensial terjadi sebeb gunungadalah penangkap hujan terbaik,
Pada wilayah yang sering terjadi letusan gunung berapi, sangat baik didirikan pembangkit listrik.
Mesothelioma – What Mesothelioma Cancer Is If you want details about malignant mesothelioma cancer, you may find it too difficult to obtain the right information written in an easy way. Everybody has listened the term mesothelioma a minimum of once, but very few individuals really know what this rare kinds of cancer really is. Through of the series of articles relating to this subject, you‘ll understand and discover rapidly relating to this cancer disease that affects either, men or women at any age without any type of distinction. Lets review some basic concepts as well as what this disease exactly is. Cancer from the mesothelium appears once the cells from the membrane that forms the lining of several internal organs within the various body cavities, the pleura inside the thoracal cavity, the peritoneum inside the abdominal cavity and also the pericardium in the guts sac, become abnormal or ‘malignant’ and divide neither with control nor order. The mesothelium is composed by 2 layers of cells, which produce a fluid that enable the expanding and contracting movements of organs, for example the guts beating and also the corresponding lungs movements. Although most Mesothelioma cases start inside the pleura or peritoneum, the matter increases when these cancerous cells can damage nearby tissues and organs or perhaps metastasize or spread with other parts of your respective body. Despite the Mesothelioma cancer rate has increased in the last 20 years, this disease Isn‘t as common as other kinds of cancer pathology. The amount of new diagnosed cases inside the United States rises as much as 2, 000 each year. credit cards with cash back credit card reader credit card instant approval online apply credit card bad credit credit cards credit card selection online visa card pay with credit card credit card charges visa or mastercard credit card machine apply a credit card small business credit cards prepaid debit cards visa debit card mbna credit card credit card terminal card credit application credit card generator credit card balance credit card numbers credit card transfer credit card interest rates credit card interest gold card credit card online best rate credit cards credit card low interest visa card online online credit card how to aplly a credit card 0 interest credit cards debit card

0 Response to "Ancaman Bencana Letusan Gunung Api di Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel